Untuk Ayah & yang Akan Jadi Ayah

 

 Si Kecil; Qantum kematangan

Abu Najhan. Staff Pengajar UNP-Padang

 

 

 

            Rata-rata keluarga di barat seperti Amerika memilih untuk menunda memiliki keturunan sampai mereka berusia tiga puluh tahun. Tiga konsideran penting mereka melakukan hal ini adalah; pertimbangan kematangan finansial, tidak ingin terganggu dengan kesibukan anak disaat menuju puncak karier, dan yang ketiga dengan alasan supaya mereka lebih matang secara emosional atau menunggu supaya lebih dewasa (mature), setelah itu barulah saatnya untuk menjadi seorang Daddy dan Mommy.

            Hal menarik untuk diulas adalah alasan ketiga. Karena pola fakir seperti  alasan finasial dan karier juga cukup banyak diamini oleh masyarakat timur termasuk barangkali masyarakat disekitar kita. Tapi tidak jarang pula kita lihat banyak pasangan muda yang sudah dikaruniai rezeki keturunan oleh Allah mampu berjaya menjadi Ayah dan Ibu yang baik bagi anak-anaknya dengan kondisi emosinal yang sudah stabil. Sebenarnya, bagi seorang ayah khususnya, memiliki momongan adalah suatu fragmen kehidupan yang semestinya dipergunakan untuk mengakselerasi diri untuk menjadi lebih matang. Bukan sebaliknya dituggu dulu sampai pada tahap kematangan yang sebenarnya kita juga tidak punya batasan kongkrit sampai kapan, menggunakan piranti apa untuk matang, dan barometer apa yang kita gunakan untuk mengukur kematangan seseorang.  

            Fitrahnya laki-laki yang mengedepankan rasional dan berorientasi prestasi kerja, barangkali pada fase awal menjadi seorang ayah akan menemui kejutan-kejutan kecil disaat harus meluangkan waktu berbagi tugas bersama si ibu untuk terbangun di tengah malam atau juga membantu mengganti popok si kecil yang basah. Sungguh ini membutuhkan sebuah latihan ber-empati yang tidak semudah membalikan telur dadar, terlebih lagi bagi seorang ayah yang super sibuk atau punya latar belakang kehidupan tidak pernah punya adik kecil dimasa mudanya.

            Dalam hal kehidupan rumah tangga yang lebih luas, seorang ayah harus legowo mengikhlaskan diri apabila waktu istri untuknya sedikit terpangkas dengan kehadiran si kecil, atau bahkan si ayah harus mengerjakan sebagaian tugas-tugas rumah tangga yang sebelumnya dikerjakan istri. Tetapi disini pulalah keindahan sejati dari rumah tangga  bisa kita reguk, disaat ada kebersamaan dan kerjasama yang solid antara suami dan istri. Kalaupun ada pembantu, tida mesti semua urusan rumah tangga ditangani pembantu.

            Ketika sikecil rewel, sementara si ayah lagi giliran jaga anak (karena istri lagi shalat atau ada urusan penting misalnya) si ayah saat itu haruslah menjadi orang yang bijak dan pintar plus berlapang hati menenangkan si kecil. Bahkan latihan negosiasi dan pengalaman lobi politik kita di kantor pun tidak akan mangkus untuk hal yang satu ini. Selagi lagi si ayah harus lebih mengakselerasi diri bagaimana menemukan kiat praktis menangani anak yang rewel, yang kalau tidak sabaran bisa jadi anak kena jewer. Tapi ingat hal itu bukanlah solusi dan membuat suasana lebih membaik.

            Bagi si ibu, punya momongan mungkin sudah biasa dan jadi harapan, tapi bagi si ayah, punya si kecil emang berjuta rasanya. Tatkala dilalaui dengan penuh syukur semuanya menjadi indah, melewati hari demi hari dengan perbaikan dan quantum kematangan. Yang ada hanya kesyukuran atas karunia Nya, yang bisa jadi nikmat ini tidak diberikan Allah kepada semua keluarga. So, mengapa harus menyengaja menunggu sampai usia kepala tiga baru berencana punya si kecil. Apabila rezeki itu diberikan Allah terimalah dengan kesyukuran, kalau belum, bersabar dan husnuz zhan kepada Allah adalah amal terbaik bagi seorang hamba. Wallahua’lam.

**hfz**

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: