Tahun Baru 2009 dalam Media

 MAKNA TAHUN BARU 2009 DALAM BAHASA MEDIA:

PENDEKATAN SINTAGMATIK DAN PARADIGMATIK

FERDINAND DE SAUSSURE

(Sebuah Kajian terhadap Suntingan Teks Berita Koran KOMPAS Edisi 31 Desember 2008 )

By: Muhd.Al-Hafizh,SS.

 

 

1. LATAR BELAKANG

Kehidupan manusia seakan-akan tidak bisa terlepas dari media massa, baik dalam bentuk media elektronik, audio, audio visual, ataupun media cetak. Saban waktu, stasiun televisi dan radio selalu rutin menyuguhkan berita dan informasi-informasi penting bagi pendengar dan pemirsanya. Media cetak juga berlomba untuk menjadi yang paling awal hadir di hadapan pembaca. Berbagai isu teranyar tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, bahkan juga gaya hidup selebriti, bisa diakses di media massa. Namun demikian, tidak semua pembaca dan pemirsa memilki kemauan dan kemampuan untuk menyelami apa yang dibaca atau dilihatnya. Sebagian mereka hanya mejadikan sajian media massa sekedar sebagai entertainment saja. Hanya sebagian kecil pembaca yang menjadikan apa yang mereka baca atau lihat sebagai suatu tanda yang harus dimaknai. Karena memang tidak mudah untuk melakukan hal ini. Dibutuhkan sebuah wawasan, pengetahuan, dan keterampilan pendukung.

Tulisan ini mencoba untuk menyajikan sebuah analisis terhadap teks berita yang disajikan di media cetak dengan menggunakan pisau analisis semiotik. Media yang dipilih adalah koran KOMPAS sebagai media cetak dengan beberapa alasan; Pertama, media cetak lebih mudah untuk didokumentasikan atau dijadikan arsip apabila dibandingkan dengan berita yang didengar dari radio atau televisi. Hal ini akan memungkinkan seorang peneliti untuk menyimpan, mengkaji dan memperhatikan dengan cermat segala data dalam objek kajiannya. Datanya adalah berupa bahasa dalam teks berita. Kedua, berita yang dimuat di koran diasumsikan  lebih tersaring dan akurat. Karena tentunya berita tersebut sebelum diterbitkan telah melalui proses seleksi dari redaksi. Ketiga, koran KOMPAS adalah salah satu koran nasional yang telah diakui dan berterima secara luas di masyarakat pembaca Indonesia.

Pemberitaan di surat kabar biasanya selalu terkait dengan dua hal; news novelty dan news worthy, artinya selalu memperhatikan aspek kebaruan dan nilai dari berita yang akan disajikan kepada publik. Tanpa dua hal tersebut bisa jadi sebuah koran tidak akn diminati oleh pembaca, atau akan kalah bersaing dengan koran lain. Meskipun sebenarnya kebernialain dan kebaruan sebuah berita juga akan sangat dipengaruhi oleh interest dan need dari pembaca koran itu sendiri. Hal ini tercermin dari perilaku pembaca ketika membuka koran di pagi hari. Sebagian pembaca akan langsung ke topik yang menurut mereka yang paling mereka cari, ada yang langsung ke halaman bagian ekonomi, politik, olahraga, berita kuliner, gaya hidup dan sebagainya. Sehingga tak jarang koran pun berlomb-lomba untuk menjadi koran yang paling komplit menyediakan kebutuhan informasi pembaca. Mulai dari isu internasional hingga lokal, berita politik hingga intrik dalam rumah tangga selebriti. Intinya, segala fakta empiris dan realitas sosial yang dikabarkan surat kabar atau koran menjadi suatu hal yang menarik untuk dibahas. Apalagi banyak diantara berita-berita tersebut mengandung muatan simbol dan merefleksikan kehidupan masyarakat. Jadi, suatu hal yang perlu juga disadari sewaktu membaca berita di media surat kabar adalah bahwa berita tersebut tidak hadir dengan serta merta begitu saja tanpa sebuah nilai dan kinerja media. Nilai dan kinerja media tersebut meliputi saringan berita yang layak dan diharapkan akan berterima di masyarakat, merefleksikan kondisi kekinian, dan dari data empiris. Selain itu juga tidak terlepas dari dari variabel siapa yang memberitakan, dari mana data diambil, kekuasaan reaksi, dan ketundukan kepada etika pers. Atas dasar itu semua, maka muncullah berita seperti apa yang hadir di hadapan pembaca. Danuta Reah dalam bukunya The Language of Newspaper mengatakan; the term newspaper suggests that the content of newspaper will be primarily devoted to the news of the day, and some analysis and comment on this news. Maksudnya, istilah surat kabar atau Koran menyiratkan bahwa fokus utama beritanya adalah apa yang terjadi pada hari itu, termasuk analisis dokomen tentang berita tersebut.

Menurut definisi dalam Oxford English Dictionary, menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan berita adalah tidings; the report or account of recent occurences, brought to or coming to one as new information; new occurrences as a subject or report to talk. Maksudnya, berita bukanlah realitas itu sendiri, melainkan lebih sebagai laporan atau catatan mengenai sebuah peristiwa. Maka sering dikatakan bahwa apa yang disebut berita sesungguhnya merupakan realitas tingkat kedua. Realitas pertamanya adalah kejadian empirik yang diberitakan itu. Pemindahan realitas pertama ke dalam realitas kedua tidaklah sesederhana seperti yang kita bayangkan. Ada banyak hal yang menyebabkan sebuah realitas layak untuk diberitakan.. Pola inklusi atau eksklusif realitas ini yang kemudian memunculkan apa yang disebut sebagai news values maupun news worthy. Pada akhirnya berita adalah sebuah konstruksi yang penuh makna, atau semacam realitas yang menjelma ke dalam cerita, sebagaimana halnya halnya ucapan yang tersusun dari unsur-unsur bahasa. Seperti halnya ucapan, berita tersusun luas dari kata-kata; tetapi dalam berita terdapat lebih dari sekadar kata-kata. Masalah pemindahan realitas ini menarik untuk dikaji secara semiotis. Berita adalah sebuah representasi, dalam pengertian mewakili sebagian dari realitas.

Meyakini realitas media sebagai hasil konstruksi sama halnya dengan memandang suatu fenomena yang dibaratkan seperti gunung es. Permukaan yang terlihat seringkali hanya sebagian kecil dari kenyataan sesungguhnya, dan sebaliknya apa yang ada di bawah permukaan itu justru lebih besar. Pada gilirannya peran pemaknaan oleh pembaca menjadi hal penting karena pembacalah yang mempunyai otoritas untuk melihat sejauh mana bagian yang tidak tampak dari gunung es itu dapat diketemukan. Dalam bahasa konstruktivis, peran pembaca untuk mengidentifikasi bagian-bagian yang (seringkali) tak terlihat itu disebut sebagai ‘memaknai’. (Anang Hernawan: 2008: 2)

Dari kutipan diatas dapat ditarik sebuah pengertian bahwa, ketika berita sudah dilemparkan ke publik pembaca, maka proses pemaknaan akan menjadi hak sepenuhnya dari pembaca. Tidak ada lagi keterkaitan secara langsung dengan media. Bahasa menjadi medium bagi media untuk mengkomunikasikan sesuatu kepada pembaca. Maka melalui medium bahasa yang berisi simbol-simbol itu pula lah pembaca akan akan melakukan proses menemukan makna atau menginterpretasikan maknanya. Untuk membongkar dan menemukan makna tanda yang ada dalam medium bahasa media tersebut dapat diolah dengan menggunakan konsep semiotik atau semiologi.

Ferdinand de Saussure, menyatakan bahasa sebagai sistem tanda yang mengekspresikan gagasan-gagasan: Language is a system of signs that express ideas, and is therefore comparable to a system of writing, the alphabet of deaf – mutes, symbolic rites, polite formulas, military signals, etc. but is the most important of all these systems. Dalam semiotika umum, ‘tanda’ dan ‘hubungan’ mempunyai istilah kunci untuk mengudar praktik pertandaan. Demikian pula dengan berita; sebagai sebuah praktik pertandaan, makna yang utuh dari sebuah berita akan sangat tergantung kepada bagaimana hubungan antara berita itu dengan aspek-aspek di luar berita yang menyertainya. Suatu makna diproduksi dari konsep-konsep dalam pikiran seorang pemberi makna melalui bahasa. Representasi merupakan hubungan antara konsep-konsep dan bahasa yang memungkinkan pembaca menunjuk pada dunia yang sesungguhnya dari suatu obyek, realitas, atau pada dunia imajiner tentang obyek fiktif, manusia atau peristiwa. ( Anang Hernawan: 2008: 3).

Dari latar belakang fikiran diatas, penulis tertarik untuk mencoba membahas sebuah fenomena MENYAMBUT TAHUN BARU 2009 yang sangat trend dalam berita media akhir-akhir ini. Koran KOMPAS terbit 40 halaman setiap edisinya, ditambah dengan 6 halaman (A-F) yang merupakan halaman khusus Yogyakarta dan Surakarta). Penulis sengaja memilih beberapa teks dari koran KOMPAS terbitan hari Rabu, tanggal 31 Desember 2008. Karena edisi ini sangat tepat dengan momen pergantian tahun 2008 ke tahun 2009. Ada sebanyak 16 topik pada edisi ini yang khusus membahas tentang berita seputar menyambut tahun baru 2009. Selanjutnya teks berita tersebut dianalisis dengan pisau analisis semiotiknya Ferdinand de Saussure, dengan mengelompokannya pada dua kategori analisis; sintantagmatik dan paradigmatik.

2. LANDASAN TEORI

A. Semiotika dan Bahasa Media

Kaitan antara semiotik dengan bahasa media yang dimaksud di sini adalah penggunaan pendekatan semiotik untuk menggali apa yang tersembunyi di balik teks bahasa media. Aspek ”tanda” dan ”relasi” menjadi dua kata kunci yang penting dalam penerapan semiotik ini. Dalam menganalisis teks bahasa media untuk menemukan makna, maka apa yang tertulis di dalam teks bahasa media harus dihubungkan dengan aspek-aspek lain di luar bahasa itu sendiri atau sering juga disebut sebagai konteks.

Analisis semiotik terhadap media berusaha mempertautkan hubungan antara media massa dan keberadaan struktur sosial yang ada di masyarakatnya. Analisis kritis menguji kandungan-kandungan pesan media, bagaimana teks/bahasa media dikaji, dan bagaimana makna yang dapat dimunculkan dari teks. Bagian berikut akan sedikit mengetengahkan gagasan-gagasan semiotis yang dikemukakan Ferdinand De Saussure.

Berkenaan dengan penggunaan teks media sebagai objek kajian, hal ini merujuk kepada teori pengacuan atau referensi. Sumarlam M.S dalam bukunya yang berjudul Teori dan Praktik Analisis Wacana menyatakan bahwa ada dua macam pengacuan:

Pengacuan atau referensi adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain (atau suatu acuan) yang mendahului atau mengikutinya. Berdasarkan tempatnya, apakah acuan itu berada di dalam teks atau di luar teks, maka pengacuan dibedakan menjadi dua jenis : (1) Pengacuan endofora apabila acuannya (satuan lingual yang diacu) berada atau terdapat di dalam teks wacana itu. (2) Pengacuan eksofora apabila acuannya berada terdapat di luar teks wacana.  (Hal. 23)

Terkait dengan kutipan di atas, maka pengacuan yang digunakan dalam tulisan ini adalah pengacuan eksofora. Segala informasi yang ada dalam teks berita koran KOMPAS edisi 31 Desember 2008 dihubungkan dengan acuan peristiwa pergantian tahun baru 2009.

Adapun yang dimaksud dengan teks adalah seperti apa yang dikatakan oleh Ruqaiya Hasan dalam buku Bahasa, Konteks, dan Teks: Aspek-aspek Bahasa dalam Pandangan Semiotik Sosial:

Teks memiliki batasan yag sederhana. Teks adalah bahasa yang berfungsi. Yang dimaksud dengan berfungsi adalah bahasa yang sedang melaksanakan tugas tertentu dalam konteks situasi, berlainan dengan kata-kata atau kalimat-kalimat lepas yang mungkin dituliskan di papan tulis. (Hal. 13)

Dalam tulisan ini, 16 teks berita yang dipilih merupakan bahasa yang sedang melaksanakan tugas membawa makna dalam konteks pergantian tahun baru 2009. Meskipun teks tersebut dituliskan secara terpisah, namun membangun kesatuan makna. Makna-makna tersebut harus diungkapkan atau dikodekan untuk mendapatkan satuan maknanya. Dalam analisis ini akan dilihat bagaimana teks-teks yang ada membawa satuan makna pergantian tahun baru 2009.

Teknik analisis terbagi dalam dua tahap, yakni analisis sintagmatik dan analisis paradigmatik.

B. Sintagmatik :  Pemaknaan Tingkat Pertama

Dalam pengkajian bahasa media, analisis sintagmatik dipakai untuk membongkar keberadaan teks dalam kaitannya dengan dimensi waktu. Sebuah sintagma ibarat suatu rantai, sehingga analisis sintagmatik berupaya melihat teks sebagai rangkaian peristiwa yang membentuk sejumlah cerita (narratives). Pembacaan sintagmatik memperlihatkan bagaimana relasi tanda yang dikomunikasikan ke dalam struktur tertentu berdasar kaitan waktu atau berada pada sumbu horisontal. Masing-masing unsur dalam struktur teks berkedudukan sejajar. Pertanyaannya adalah, apa saja yang perlu dinilai dalam melihat struktur teks media secara sintagmatik?

Narrative berurusan dengan ‘penataan tanda-tanda, bukan dalam alur logis, melainkan pada susunan kronologisnya’ Pengertian ini untuk menegaskan bahwa tanda-tanda kunci dalam narrative tidaklah mempunyai status sebagai proposisi, tapi hanya sekadar ‘peristiwa’. Narrative acapkali berperan mengembangkan klimaks cerita. Pada tingkat ini terdapat semacam kerja seni untuk menghasilkan ketertarikan pembaca atas rangkaian kronologis dari peristiwa. Dalam jenis berita tertentu, seringkali unsur ini terlihat dari monologue interior, semacam fiksasi penulisan dengan mengimbuhkan ekspresi serta peranan subyek dalam cerita. Tinjauan terhadap aspek naratif ini secara singkat dapat dipilah dalam dua bagian penting yakni cerita (histoirie) dan wacana (discourse).

Makna bahasa hanya bisa dipahami dengan mngetahui situasi apa yang sedang terjadi (context). Misalnya Malinowski mempelajari bahasa yang dipakai dalam perjalanan memancing ikan ketika para penduduk pulau pergi degan perahu mereka ke luar danau pinggiran laut. Bahasa mereka hanya dapat dipahami berdasarkan konteks dimana, kapan, dan latar belakang peristiwanya. (Ruqaiya Hasan : 8). Segala pemberitaan dalam teks koran KOMPAS tentang pergantian tahun baru 2009, akan dapat dimaknai dengan tepat hanya jika mengetahui apa peristiwa yang terjadi di konteks pergantian tahun itu.

C. Paradigmatik : Pemaknaan Tahap Kedua

Setelah melihat struktur teks secara sintagmatik, tahap pemaknaan berikutnya adalah analisis paradigmatik. Analisis ini memusatkan perhatian pada serangkaian tanda-tanda khusus yang menghubungkannya dengan motif representasi. Misalnya acuan-acuan konkret yang berulang-ulang mengacu pada kenyataan. Adalah menarik untuk melihat bagaimana dan mengapa acuan-acuan itu digunakan dalam teks.

 Apa yang tersimpan dalam teks membentuk semacam perkiraan tentang dunia seperti yang tengah berlangsung di realitas pertama. Kendati demikian titik tolak tersebut seringkali tetap tersembunyi, kemunculannya tersirat dan bergerak tak teratur di dalam jalinan teks. Di balik setiap pilihan kata (paradigma) yang dirangkai menjadi kalimat dan paragraf (sintagma), sadar atau tidak sadar telah ikut serta keyakinan yang manjadi basis pandangan dan sikap.

Dari tiap ekspresi maupun konotasi yang terangkai dalam narasi bahasa, keiukutsertaan ‘sesuatu’ itulah yang dianggap penting. Pada tingkat inilah pembacaan paradigmatik menemukan ruangnya. Memaknai bahasa media pada aras paradigmatik menjadi kegiatan yang paling menarik dalam analisis struktural, dengannya pembaca akan menemukan titik tolak ideologis di balik representasi. Tentu saja tidak mudah untuk menarik simpul paradigmatik dari teks. Contoh paling kental dalam menilik gejala ini adalah dengan melihat penggunaan majas. Dari bentuk eufemisme, ironik, metafora, sarkasme dan berbagai majas lain dapat ditarik makna berharga yang secara paradigmatik mengindikasikan titik tolak presuposisi teks dan demikian memperlihatkan bekerjanya nilai dan keyakinan pelaku representasi.

3. ANALISIS

 

A. ANALISIS SINTAGMATIK

 

Sebagaiman yang telah dipaparkan sebelumnya, analisis sintagmatik dipakai untuk membongkar keberadaan teks dalam kaitannya dengan dimensi waktu. Sebuah sintagma ibarat suatu rantai, sehingga analisis sintamatik berupaya melihat teks sebagai rangkaian peristiwa yang membentuk sejumlah cerita narrative . Hal ini berkenaan ‘penataan tanda-tanda, bukan dalam alur susunan kronologisnya. Beberapa teks yang dapat dibahas dengan analisa sintagmatik dalam loran KOMPAS edisi 31 Desember 2008 berkenaan denga budaya tahun baru adalah:

 

1. Tahun, Semesta, dan Kehidupan.

            Ditemukan sebuah formula penataan tanda-tanda tentang makna tahun menurut perhitungan manusia di bumi, tahun dalam narrative semesta (jagad raya), dan tahun Masehi dalam versi kehidupan dan aktivitas manusia. 1 tahun dalam perhitungan manusia adalah kurun yang terus berputar selama 12 Bulan, Januari sampai dengan Desember. Hitungan harinya adalah sebanyak 365 hari. Narasi ini mengantarkan manusia pada pemaknaan tanda-tanda dan melakukan aktivitas pergantian tahun. Apabila bulan Desember sudah berakhir, maka manusia bersiap-siap untuk celebrating new year, menantikan detik-detik pergantian tahun, menyambut 1 Januari tahun berikutnya. Begitulah yang terus terjadi setiap tahunnya, cara manusia memaknai 1 tahun yang berlalu. Sedikit berbeda dengan makna tahun baru yang dipahami oleh seorang Muslim, bagi mereka 1 tahun Qamariyah  adalah perhitungan dari awal Bulan Muharam sampai dengan akhir Zulhijjah. Apabila bulan Masehi didasarkan pada perhitungan bumi mengitari matahari, maka makna tahun baru bagi Muslim adalah berdasarkan peredaran bulan. Peringatan tahun baru adalah mengingat momentum hijrahnya nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah.

Makna pergantian tahun berbeda menurut konsep semesta apabila dilihat dari ilmu astronomi. Menurut data ilmu astronomi, jarak rerata Bumi ke Matahari adalah 150 juta km, maka untuk satu kali putaran mengitari Matahari perlu waktu 365 hari. Itulah yang disebut manusia satu tahun di Bumi. Lain halnya bagi planet Merkurius yang berjarak 57,5 juta km dari matahari, satu tahun di sana 87,9 hari bumi. Lalu satu tahun  untuk Venus adalah 224,7 hari Bumi. Beda lagi dengan hitungan satu tahun planet luar, yang jaraknya cukup jauh dari matahari, maka hitungan hari untuk satu tahun juga akan sangat berbeda. Mars misalnya, 686,9 hari Bumi, Jupiter 11,9 tahun Bumi, Saturnus 29,5 tahun Bumi, Uranus 84 tahun Bumi, Neptunus 164,8 tahun Bumi, dan Pluto 247,9 tahun bumi. Ini artinya, seandainya manusia hidup di planet Pluto, atau ada manusia yang hidup di sana, maka mereka akan merayakan pergantian tahun memerlukan waktu 247,9 tahun.

Dari uraian diatas jelaslah bahwa makna satu tahun sangat berbeda beradasrkan narasi yang menyusunnya. Jika hari ini manusia Bumi merayakan prgantian tahun 2008 ke 2009, maka perayaan tahun baru sebelumnya di Pluto adalah pada tahun 1760.

            Narasi satu tahun juga memberikan makna yang berbeda dalam hal kehidupan manusia. Kalau di Pluto tahun 1760 sampai dengan 2008 baru dianggap satu tahun, maka bagi kehidupan Bumi, sejak tahun 1760 sampai dengan 2008 ini telah berlangsung selama 248 tahun. Selama kurun waktu tersebut telah banyak hal yang terjadi dalam perubahan kehidupan manusia. Diantaranya adalah dekade revolusi industri di Inggris. Selama kurun waktu itu manusia telah menemukan banyak hal kemajuan dan kecanggihan teknologi dalam komunikasi, transportasi, dan sebagainya. Hal ini dapat dilihat pada kutipan di bawah ini:

Tampaknya ada titah khusus yang diamanatkan kepada kehidupan, dan khususnya kepada manusia penghuni alam semesta dari Tuhannya. Menjadi kewajiban kitalah untuk secara cerdas menangkap amanat tersebut. Ini tentu lebih serius daripada sekedar mengulang ritual setiap tahun tatkala matahari di hari terakhir bulan Desember tenggelam di ufuk Barat. (Ninok Leksono : KOMPAS)

 

Ringkasnya, narasi yang membangun makna konsep satu tahun dapat dikelompokkan dalam tabel sebagai berikut:

1 Tahun Manusia Bumi

1 Tahun Semesta

1 Tahun Kehidupan

365 Hari

Masehi : Januari-Desember

Hijriah  : Muharam-Zulhijjah

 

Merkurius : 87,9 hari bumi

Venus        : 224,7 hari bumi

Mars          : 686,9 hari bumi

Jupiter        : 11,9 tahun bumi

Saturnus     : 29,5 tahun bumi

Uranus        : 84 tahun bumi

Neptunus    : 164,8 tahun bumi

Pluto           : 247,9 tahun bumi

Tingkat capaian perubahan dan kemajuan yang bisa dicapai manusia.

Satuan Makna Tahun Baru

 

2. Persembahan Djarum Akhir Tahun

            Dalam teks berita ini, tersirat makna bahwa kesuksesan tahun  2008 dalam menyongsong tahun baru 2009 adalah dengan menyelenggarakan beberapa pertunjukan musik. Acara yang diadakan Djarum ini menjadi sentra dari pergantian tahun di Jokjakarta. Ada delapan lokasi acara konser hiburan band rock yang diselenggarakan Djarum, yaitu; Hyatt Regency, Liquid Next Generation, Novotel, Melia Purosani, Alaun-Alun Utara, Grand Quality, Sheraton Mustika, dan Alun-Alun Wonosari.

            Bentuk dan tema acaranya pun beraneka ragam, tidak hanya konser musik, tetapi juga tata panggung, tata suara, dan desain kembang api. Tema-tema lain yang disajikan yaitu A Tribute to Mardi Gas, New Year Party 2009, Find Las Vegas Hotel, Street Festive, New Year Eve Party Fiest on Board, dan Beat on the Beach.

            Dari informasi diatas dapat dikatakan bahwa pemaknaan kesuksesan tahun 2008 dalam versi PT Djarum ditandai dengan sebuah narasi perjalanan konser yang cukup panjang di delapan tempat berbeda di Jogjakarta. Sampai pada puncaknya pesta kembang api malam pergantian tahun.

 

3. Tahun 2008, 2009, dan Bagaimana Selanjutnya?

            Dalam ranah politik dan demokrasi, selama tahun 2008 masyarakat Indonesia masih terombang ambing antara ketidakpastian masa depan mereka. Jumlah TKI / TKW Indonesia terkena dampak dari krisis global. Puluhan ribu orang dipulangkan ke tanah air. Sementara itu lapangan kerja yang tersedia tidak mungkin dapat menampung mereka. Narasi 2008 sepertinya mengukir beberapa tanda ketidaksejahteraan masyarakat Indonesia.

Hal ini terungkap dari kutipan berikut ini:

Tahun 2008 telah kita lalui dengan susah payah, terutama oleh rakyat kecil yang nasibnya masih terombang ambing antara ketidakpastian masa depan. Jumlah TKI / TKW kita harus dipulangkan karena dampak krisis ekonomi global. Sementara lapangan pekerjaan yang tersedia tidak cukup untuk menampung mereka. (Ahmad Syafii Maarif : KOMPAS)

 

            Bagaimana dengan 2009, baik dalam kaitannya dengan ranah nasional ataupun global. Belajar dari tahun 2008 maka ada beberapa makna yang harus ditangkap: pertama; bangsa Indonesia harus bersiap diri degan bencana yang bsa saja datang menimpa. Kedua, dalam aspek politik kita akan menhadapi pemilu legislatif, maka harus ada ketentraman dan situasi keamanan yang stabil. Jangan terjadi kericuhan seperti dalam beberapa Pilkada di daerah selama 2008.

 

4. Tahun Indonesia Kreatif 2009

            Dalam topik ini dibahas tentang refleksi roda perekonomian tahun 2008. Banyak permasalahan ekonomi Indonesia pada tahun 2008 yang belum sepenuhnya dapat diberdayakan dalam mensejahterakan bangsa dan masyarakat secara luas. Masyarakat Indonesia masih dihadapkan kepada naiknya harga BBM pada awal hingga pertengahan tahun 2008. Sebagai imbas dari naiknya harga BBM, harga sembako dan barang-barang kebutuhan masyarakat lainnya juga turut naik. Angka kemiskinan masih belum dapat ditekan secara efektif dengan program-program pemerintah seperti BLT dan PNPM Mandiri. Malahan ironisnya ada beberapa daerah yang masih didemo oleh masyarakat yang tidak puas dengan cara penentuan penerima BLT. Ada pula beberapa daerah yang menolak untuk melaksanakan program PNPM Mandiri karena disinyalir bernuansa kampanye terselubung dari parpol dan tokoh tertentu.

            Dari sudut pandang ekonomi negara, sepertinya pergantian tahun 2008 ke tahun 2009 memilki makna tersendiri. Makna yang dimaksud adalah akan terjadinya perbaikan infrastruktur perekonomian negara dengan segala perangkat penunjangnya. Sehingga dicanangkan tahun 2009 sebagai tahun Indonesia Kreatif. Hal ini terungkap dari cuplikan teks berikut ini:

Pemerintah telah merampungkan penyusunan cetak biru pengembangan ekonomi kreatif dengan target program dan pencapaian 2025. Bersamaan dengan peringatan Hari Ibu 22 Desember 2008, Presiden SBY mencanangkan tahun 2009 sebagai Tahun Indonesia Kreatif.

Ekonomi Kreatif didasarkan pada pengolahan atas ide, kreativitas , dan keterampilan individu untuk mengembangkan perekonomian berkelanjutan. Sejumlah 14 subsektor diientifikasi sebagai industri kreatif, antara lain periklanan, arsitektur, kerajinan, desain, fashion, film, musik, seni pertunjukan, percetakan dan penerbtan, serta radio dan televisi. (Nur Hidayati : KOMPAS)

 

Dari kutipan diatas tersirat sebuah makna bahwa narasi perekonomian 2008 menuju 2009 membawa makna akan adanya perubahan roda perekonomian kearah yang lebih baik melalui pencanangan Tahun Indonesia Kreatif  2009.

 

 

5.Refleksi Akhir Tahun : Membaca Pembuka Budaya Baru.

 

Kompleksitas budaya memerlukan adanya reinterpretasi ulang dengan pelibatan subyek, obyek, dan predikat, bahkan keterangan sekaligus. (Refleksi akhir tahun 2008) masih menunjukkan bahwa kultur kita sebagai orang tanpa jabatan politis-birokratis masih terjebak untuk turut merebut ”roti” kekuasaan, entah karena alasan ideologis atau sekadar ”pengganajal perut”.

(Matroni El-Moezany : KOMPAS)

           

Sebuah sistem tanda yang dibawa oleh kutipan teks berita di atas adalah ”roti kekuasaan”. Perjalanan tahun 2008 digambarkan bahwa para pejabat dan para pencari jabatan masih sibuk dengan memperebutkan ”roti kekuasaan”. Roti adalh sejenis kue yang dapat dimakan. Disaat ia disandingkan dengan kata jabatan, maka ia akan membangun sebuah makna baru. Makna tersebut adalah, orang yang haus dengan jabatan seringkali menggunakan untuk ”dimakan” atau disalahgunakan demi memperkaya diri sendiri.

            Kata-kata ”pengganjal perut” dia khir teks berita juga membawa makna yang baru. Biasanya kata ”mengganjal perut” digunakan untuk konteks mengisi perut dengan makanan dalam jumlah yang relatif kecil. Sekedar untuk bertahan hidup. Akan tetapi ketika diungkapkan bahwa jabatan digunakan untuk mengganjal perut, tentulah maknanya sudah lain lagi. Hal ini mengisyaratkan bahwa selama tahun 2008 masih banyak oknum yang memanfaatkan jabatan untuk eksistensi diri, keuarga, dan kerabat, atau yang lebih dikenal dengan KKN.

            Momen pergantian tahun ke 2009, diharapkan akan menjadi momentum perbaikan citra pejabat dan penguasa untuk menjadi lebih baik. Memberikan pelayanan yang prima kepada masyarakat, bukan sebaliknya memperkaya diri sendiri dan keluarga.

6. Tahun Baru : Waspadai Arus Llalu Lintas di Kawasan Tempat Hiburan.

 

            Narasi menjelang tahun baru  2009 juga ditandai dengan kemacetan lalu lintas di daerah tempat-tempat hiburan. Hal ini selalu terjadi di tiap tahunnya. Seolah-olah ini sudah menjadi rutinitas bagi bangsa ini. Karena hal ini sudah menjadi kejadian yang berlangsung setiap saat tahun baru, maka bagi mereka yang sudah mengerti dengan pertanda ini, akan mewaspadai arus lalu lintas yang sangat ramai di kawasan tempat hiburan. Hal ini penting bagi mereka, agar tidak terperangkap dalam kemacetat atau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan lainnya.

 

Malam jelang tahun baru 2009, arus lalu lintas menuju sejumlah tempat hiburan, seperti Taman Mini Indonesia Indah dan Taman Impian Jaya Ancol, dipastikan sangat padat. Bagi pengguna jalan yang ingin mengindari kemacetan sebaiknya memilih jalan alternatif. Ada 3.000 petugas yang disiagakan. (Win dan Nta : KOMPAS)

 

7. Transjakarta Terakhir Pukul 19:00 WIB.

 

            Ada sebuah fenomena menarik tentang Busway atau yang dikenal juga dengan Transjakarta sehubungan dengan perayaan tahun baru. Biasanya jadwal operasi Transjakarta mulai dari pukul 05:00 pagi sampai dengan pukul 22:00  malam. Akan tetapi khusus tanggal 31 Desember 2008, jam operasional Transjakarta diperpendek hanya sampai pukul 19:00 WIB. Ada sebuah pemaknaan yang bisa dilakukan disini, bahwa akan terjadi puncak peningkatan arus kendaraan setelah jam 17:00 WIB, suatu hal yang biasa terjadi adalah, banyak kendaraan lain yang juga menyerobot jalur Transjakarta. Maka untuk menghindarkan kemacetan dan hal-hal lain yang tidak diinginkan, maka Transjakarta memilih cara aman untuk stop sampai pukul 17:00 WIB saja. Hal ini terlihat dalam kutipan berikut:

Bus Transjakarta koridor I – VII pada Rabu (31/12) akan beroperasi pukul 05:00 – 19:00. Perubahan jadwal itu disampaikan Kepala Badan Layanan Umum Transjakarta DA Rini, Selasa (30/12). Pemendekkan waktu operasional didasarkan pengalaman 2007 ketika bus Transjakarta terhambat kendaraan lain yang menyerobot jalur khusus busway. Pada 1 Januari 2009, Transjakarta akan beroperasi seperti biasa, pukul 05:00 – 22:00. (Cas : KOMPAS).

 

8. KRL Malam Beroperasi, Perayaan Tahun Baru, Hotel di Anyer-Carita Penuh.

Kebutuhan transportasi umum pada malam pergantian tahun 2008 menuju 2009 dipastikan meningkat. Dalam rangka mengantisipasi lonjakan permintaan itu, PT Kereta Api daerah operasional I jabodetabek mengoperasikan KRL malam tambahan pada Rabu hingga Kamis (1/!) dini hari. (Nel ; KOMPAS)

 

Selain menyerbu Jakarta, sebagian warga memilih menghabiskan malam tahun baru di hotel-hotel tempat wisata. Sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Banten, Agus Santoso mengatakan, seluruh kamar dan sejumlah hotel besar di pantai Barat Banten sudah penuh terisi. Setiap hotel sudah menyiapkan acara untuk menghibur wisatawan yag akan menghabiskan pergantian tahun di Anyer dan Carita. (Nel : KOMPAS)

 

Dua tanda sintagmatik lainnya yang merujuk kepada perayaan tahun baru 2009 adalah beroperasinya KRL malam dan penuhnya hotel di Anyer dan Carita. Makna implisit yang bisa diambil dari narasi peristiwa peringatan tahun baru ini adalah, pada waktu biasa di luar tahun baru, KRL malam tidak dioperasikan. Tapi seiring dengan membludaknya calon penumpang pada perayaan tahun baru, maka kereta tersebut dioperasikan. Sama halnya dengan hotel di Anyer dan Carita. Berarti dapat ditangkap makna implisitnya bahwa disaat diluar perayaan tahun baru, hotel ini tidak penuh dibooking pelanggan. Tapi karena banyaknya masyarakat yang ingin merayakan tahun baru di sekitar Anyer dan Carita, akibatnya hotel pun jadi penuh.

 

 

 

 

 

9. Persiapan Panggung Tahun Baru.

 

Menjelang detik-detik perayaan tahun baru ditandai dengan kesibukan panitia di berbagai tempat sentral perayaan tahun baru untuk mempersiapkan panggung tahun baru. Panggung itu sendiri dapat dimaknai sebagai perangkat tanda akan dilaksanakannya berbagai hiburan di tempat-tempat tersebut, baik berupa konser, pertunjukan teater, wayang dan sebagainya. Seperti yang dapat dilihat pada kutipan berikut ini:

Panitia sibuk mempersiapkan panggung musik untuk menyambut malam tahun baru di Pantai Carnaval ancol, Jakarta. Acara yang menghadirkan artis-artis terkenal dalam negeri tersebut akan ditutup engan pesta kembang api. (Advetorial : KOMPAS)

 

B. ANALISIS PARADIGMATIK

            Seperti yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya bahwa analisis paradigmatik  ini memusatkan perhatian pada serangkaian tanda-tanda khusus yang menghubungkannya dengan motif representasi. Misalnya acuan-acuan konkret yang berulang-ulang mengacu pada kenyataan. Dari beberapa teks yang dimuat dalam koran KOMPAS edisi 31 Desember 2008, ada beberapa tanda-tanda (simbol) khusus yang mengacu pada pergantian tahun. Tanda-tanda tersebut adalah:

1. Trompet-trompet Mengepung Kota

            Perayaan tahun baru selalu identik dengan meniup trompet. Sebelum akhir Desem ber banyak sekali ditemukan para pedagang yang menjual trompet di toko dan pinggir jalan. Sepertinya paradigma malaikat sudah terlalu dekat dengan budaya meniup trompet untuk menyambut pergantian tahun. Meskipun tidak semua masyarakat mengetahui apa makna yang terkandung dibalik meniup trompet itu sendiri. Dalam artikel KOMPAS yang berjudul Terompet (Ikon) ditemukan teks sebagai berikut:

   Awalnya budaya meniup trompet dilakukan bangsa yahudi dalam menyambut tahun baru mereka. Trompet masa itu disebut sebagai shofar, sejenis trompet dari tanduk binatang, sebagai cara merefleksikan diri.

 

Dari kutipan diatas dapat dipahami bahwa bagi ansa Yahudi eniup trompet bermakna merefleksikan diri. Merefleksikan eksistensi mereka di tengah masyarakat. Bagi masyarakat Indonesia yang meniup trompet sepertinya tidak begitu jelas makna yang terkandung di dalamnya. Meniup trompet bisa berarti ungkapan kegembiraan. Kegembiraan karena telah datangnya tahun baru dan harapan baru bagi mereka.

            Selain itu secara historis, ternyata trompet juga memiliki latar belakang yang cukup panjang, seperti bisa dilihat pada kutipan di bawah ini:

Terompet diperkirakan sudah ada sejak 1.500 Sebelum Masehi. Alat mulanya digunakan sebagai keperluan ritual agama dan tradisi militer, khususnya saat akan perang. Masa pertengahan Renaissance, terompet mulai digunakan sebagai alat musik berbahan logam. Alat ini memiliki tiga tombol. Umumnya trompet yang digunakan untuk pergantian tahun di Indonesia terbuat dari kertas karton. (Advetorial : KOMPAS)

 

Sedikit berbeda dengan para konsumen, ternyata bagi produsen atau penjual, trompet merupakan peluang bisnis seiring dengan datangnya tahun baru. Tidak sedikit pedagang trompet yang menggantungkan harapan dari hasil penjualan trompet. Seperti yang dapat dilihat pada kutipan berikut ini:

Tahun ini, Sakino mengharapkan keuntungan bersih Rp. 9 juta hingga Rp. 10 juta dari sekitar 5.000 terompet yang dijualnya. Selama 12 tahun ia berbisnis terompet, ia bisa membeli motor, sapi, dan sawah di kampung. Menurut Sakino, kalau bos penjual untungnya lebih besar. Untuk satu musim, mereka bisa membeli mobil. Para bos adalah orang Bulukerto yang bermodal besar, lalu membeli bahan baku trompet dan menjualnya kepada para pembuat trompet yang ”hijrah” ke Jakarta. (Sri Rejeki : KOMPAS)

 

Dari dua kutipan diatas dapat ditangkap makan paradigmatik yang terkandung dalam benda Trompet adalah sebagai berikut:

 

 

TROMPET

1.500 SM          : Ritual & Militer

Renaissance       : Alat musik

Yahudi (shofar) : Aktualisasi diri

Konsumen Ind.  : Kegembiraan

Penjual                : Peluang bisnis

 

2. Kembang Api di Gedung Tertinggi

            Di jakarta, perayaan tahun baru 2009 dipusatkan di Taman Mini Indonesia Indah dan Taman Impian Jaya Ancol. Setiap tahunnya perayaan tahun baru selalu tidak lepas dari pesta kembang api.

            Ikon kembang api ini pada awalnya merupakan Ikon yang dibuat oleh masyarakat Taipei. Setiap pergantian tahun baru, masyarakat di sana merayakannya dengan pesta kembang api di Gedung Taipei 101. Gedung ini tingginya 508 meter. Berarti sekitar empat kali tinggi Monas yang hanya 137 meter. Masyarakat di sana memiliki akna tersendiri tentang kembang api ini, seperti yang bisa dilihat dari kutipan di bawah ini:

Panitia penyelenggara pesta kembang api di taipei menjanjikan pesta kembang api lebih spektakuler daripada tahun 2008. Biro pariwisata Taiwan menyebutkan jumlah kembang api yang disulut mencapai 16.00 ribu buah. Tema pesta kembang api tahun ini adalah warna merah, emas, dan hijau. Hal ini adalah sebagai simbol keberuntungan, kekayaan, dan cinta terhadap lingkungan (Wisnu Aji Dewabrata : KOMPAS)

 

Dari kutipan diatas dapat dilihat dengan jelas bahwa masyarakat Taipei memilki seuah pemahman atas tanda-tanda yang mereka buat sendiri melalui warna pesta kembang api. Tidak jelas apakah masyarakat Indonesia  memilki kesepakatan juga tentang warna yang mereka gunakan dan makna apa yang terkandung di dalamnya. Namun yang tampak, sepertinya pesta kembang api Indonesia di dominasi warna merah dan para penyulut kembang api tersebut hanya punya misi luapan kegembiraan.

            Sisi lain yang bisa diamati secara semiotis dari fenomena pesta kembang api di Taepei adalah tentang Gedung Taipei 101. Dalam tulisan KOMPAS dikatakan bahwa Gedung ini adalah ikon bagi masyarakat di sana. Seperti pada kutipan berikut ini:

Gedung Taipei 101 berlokasi di Sinyi (Xinyi) Road Sector 5 dan merupakan magnet kota taipei bagi wisatawan. Dari ketinggian gedung ini, pengunjung dapat elihat gedung-gedung utama di taipei dan deretan pegunungan di Utara, Selatan, dan Timur. Fasilitas baru yang ditambahkan adalah ”pengunjung bisa berjalan di atas awan” karena lantai serta dindingnya memproyeksikan pemandangan di bawah Gedung. (Wisnu Aji Dewabrata : KOMPAS)

 

Disamping itu, gedung ini juga mampu menjadi ikon bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat Taipei:

Pada tahun baru, gedung ini selalu menjadi pusat kerumunan masa. Tua dan muda akan tumpah memenuhi kawasan sekitar Gedung Taipei 101. Ekonomi bergerak di keramaian itu setiap tahun. Disiapkan lima lantai di bagian dasar bangunan yang menawarkan merek-merek dunia. (Wisnu Aji Dewabrata : KOMPAS)

 

Tidak hanya sebatas ikon pariwisata tapi ternyata juga bisa menjadi ikon ekonomi Taipei. Bila dibandingkan dengan Monas, ternyata ada hal yang berbeda dilihat di sini. Disaat semua penanda kota di dunia berbenah dan berhias menyambut tahun baru, Monas sebagai penanda kota Jakarta justru dijauhkan dari rakyatnya yang membayari pembangunan dan pemeliharaannya. Taman rusak dan antisipasi keamanan adalh sebagai alasannya. Hal ini kentara sekali terlihat bahwa ketika malam merayakan tahun baru 31 Desember 2008 , diantara 6 objek wisata terkemuka di Jakarta, hanya Monas yang tidak memilki acara khusus di malam tahun baru ini. Sedangkan di tempat lain sangat meriah dan meriah, misalnya di La Pizza Kelapa Gading ada konser Ari Lasso. Di Ancol ada hiburan dari grup Band Nidji, Ungu, dan lain-lain. Di TMII ada konser kolosal  Band radja dan Elvi Sukaesih, serta pertunjukan Wayang oleh Ki Joko Edan. Di Ragunan ada atraksi hewan. Sedangkan di taman Wisata Mekarsari ada pesta kembang api dan panggung dangdut bersama Cynthia Sari. Di Monas sendiri tidak ada acara khusus, dan jam buka tetap seperti biasa jam 08:30 – 17:30 WIB.

            Dari beberapa kutipan dan uraian diatas, dapat dirumuskan makna-makan analisis paradigmatik dari kembang api menyambut tahun baru adalah sebagai berikut:

 

 

Kembang Api di Taipei

Warna merah : Simbol keberuntungan

Warna emas   : Simbol kekayaan

Warna hijau   : Simbol kecintaan lingkungan

 

Gedung 101

Ikon pariwisata

Ikon perekonomian

 

3. Boyz II Men : Pergantian Tahun

 

Grup Boyz II Men dalam dua kategori Grammy Award 2008 ini merasa senang bisa pentas akhir tahun di hadapan hadirin di Mulia Hotel yang menyediakan 80 Meja untuk 800 ratus pengunjung. Kalau tidak ada tawaran manggung, mereka memilih menghabiskan malam tahun baru di rumah saja   (SeIvi : KOMPAS)

 

Pemaknaan paradigmatik yang dapat diambil dari Boyz II Men tentang tahun baru adalah, tahun baru merepresentasikan peluang untuk mendapatkan tawaran manggung. Selanjutnya tawaran manggung berarti kesempatan untuk mendapatkan income. Bayaran yang diterima untuk perayaan tahu baru biasanya lebi besar dari jadwal manggung biasanya. Tetapi disaat tidak ada tawaran untuk manggung, malam tahun baru berarti kesempatan untuk tinggal di rumah, berkumpul bersama keluarga.

 

4. Dino Patti Djalal : Tahun Baru.

 

            Dalam teks berita ini diperoleh suatu pemaknaan tahun baru dalam versi seorang pejabat negara, yaitu Dino Patti Djalal, juru bicara Kepresidenan. Makna yang dapat ditarik adalah, perayaan pergantian tahun memberikan kesempatan untuk berinteraksi dengan Presiden dan para keluarga pejabat kepresidenan dalam kondisi yang lebih cair. Dari informasi ini, dapat ditarik sebuah pemahaman bahwa di luar suasana perayaan tahun baru, biasanya suasana dalam interaksi pejabat kenegaraan selalu formal dan diatur dengan protokoler yang ketat. Disamping itu, jarang ada kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga pejabat kepresidenan. Hal ini dapat dilihat dari kutipan di bawah ini:

Bagi Dino Patti Djalal (juru bicara kepresidenan) suasana tahun baru menjadi suasana yang cair, ringan , dan jauh dari aturan protokoler membuat pergantian tahun bersama presiden dirasakan nikmat. Terlebih seua perangkat kepresidenan pun membawa anggota keluarga. (Inu : KOMPAS)

 

Suasana perayaan tahun baru menjadi wahana interaksi antara keluarga pejabat kepresIdenan secara lebih informal. Hal ini menandakan bahwa di luar suasana perayaan tahun baru, interaksi berlangsung lebih formal dan taat protokoler.

 

5. Jangan Konvoi Kendaraan.

 

Kepala Satuan Lalu Lintas Kepolisian Wilayah Kota Besar Semarang, Komisaris Besar Slamet Santoso meminta warga tidak berkonvoi saat malam tahun baru, Polisi juga melarang dipakainya mobil bak terbuka. Toleransi diberikan jika bagia atas bak ditutupi terpal. Tingkat kecelakaan di Semarang cukup tinggi. Hingga November 2008, ada 2.286 kecelakaan. Titik tiga kemacetan di Semarang adalah jalan Simpang Lima, Pandanaran, dan Gombel. Simpang Lima akan ditutup setelah pukul 21:00 Wib. (Den : KOMPAS)

 

 

            Kutipan paragraf di atas menandakan adanya kesibukan yang berbeda di jalur transportasi di saat perayaan tahun baru. Untuk tidak menambah kesemrawutan jalan raya, maka pihak kepolisian meminta warga tidak berkonvoi, dan tidak menggunakan mobil terbuka untuk menjaga keamanan dan mengurangi resiko kecelakaan yang fatal di jalan raya. Kepadatan lalu lintas seolah-olah telah menjadi tanda yang khas pada saat setiap perayaan tahun baru.

 

6. Malam Tahun Baru :Jakarta Barat dan Jakarta Utara Rawan Kriminalitas.

 

            Hal lain yang identik dengan peringatan tahun baru adalah angka kriminalitas yang juga relatif tinggi. Hal ini disebabkan karena membludaknya massa yang ingin merayakan tahun baru. Sebuah tanda yang dapat dimaknai di sini adalah, bahwa mereka yang merayakan tahun baru sering kali lengah atau kurang waspada di saat bergembira menyambut tahun baru. Hal ini membuka peluang kepada para pelaku kriminalitas untuk menjalankan aksinya. Seperti yang ada dalam teks berita berikut ini :

Malam perantian tahun baru berpotensi menjadi ajang kriminalitas. Pada saat bersamaan, potensi kecelakaan lalu lintas juga diperkirakan meningkat seiring dengan membludaknya penggunaa jalan. (Advetorial : KOMPAS)

 

7. Kondisi Penyebrangan Jelang Malam Tahun Tahun.

 

Secara umum, kondisi penyebrangan laut menjelang pergantian tahun relatif aman. Gelombang diatas 4 meter diperkirakan hanya akan terjadi di Nias, 2 Januari 2009. Sementara gelombang di Selat Sunda diperkirakan setinggi 2-2,5 meter. ”Penyebrangan kapal besar seperti feri relatif aman” kata Kepala Subbidang Informasi maritim BMKG, Suratno. (Mhf : KOMPAS)

 

Tidak jauh berbeda dengan transportasi darat, perayaan tahun baru juga ditandai dengan perubahan pada transportasi laut, meskipun dari segi kuantitas dan tingkat keamanannya tidak begitu bermasalah. Selama perayaan tahun baru 2009 kondisi penyebrangan dengan kapal laut berlangsung cukup aman.

 

4. KESIMPULAN

            Fenomena pergantian tahun baru dalam pemberitaan media adalah suatu hal yang menarik untuk diteliti. Berdasarkan analisis sintagmatik (pemaknaan tahap pertama), dan analisis paradigmatik (pemaknaan tahap kedua) dengan dikaitkan dengan referensi eksofora pergantian tahun baru 2009, maka 16 suntingan teks berita tentang tahun baru 2009 di Koran KOMPAS edisi 31 Desember 2008 dapat dikatakan mengandung unsur sintagmatik dan paradigmatik. 9 suntingan teks membawa makna sintagmatik dan 7 suntingan teks mengadung paradigmatik.

 

 

 

= ***** =

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: