Fungsi Adat dalam Enkulturasi Nilai-Nilai Islam:Sebuah Tinjauan Fungsionalisme Malinowski

 

FUNGSI UPACARA ADAT DALAM ENKULTURASI DAN INTERNALISASI NILAI-NILAI ISLAM DI MINANGKABAU

By: Muhd.Al-Hafizh

 

            Sebelum penulis menganalisi dan menguraikan satu-satu persatu dari fungsi upacara adat di Minagkabau dalam proses enkulturasi dan internalsasi terhadap dalam kehidupan masyarakat, ada baiknya dilandasi terlebih dahulu dengan pembahasan tentang falsafah hidup yang mendasari perikehidupan masyarakat. Falsafah yang dimaksud adalah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi kitabullah”selanjutnya disingkat dengan ABS SBK. Maksudnya adalah, adat di Minagkabau adalah berdasarkan pada syarak (agama Islam ), dan agama itu dasarnya dalah kitabullah (Al quran). Selanjutnya falsafah ini dilengkapi dengan “syarak mangato, adat mamakai”. Maksudnya adalah, agama itu memberikan perintah atau aturan, dan adat melaksanakan (memakainya).

 

4.1. FALSAFAH ABS SBK (FUNGSI AGAMA DALAM MERUBAH FALSAFAH ADAT)

Secara historis, falsafah adat ini dapat dideskripsikan sebagai berikut; Sebelum Islam masuk ke Minangkabau, orang Minang memanfaatkan alam sebagai sumber ajarannya. Mereka menggali nilai-nilai yang diberikan alam. Ini diungkapkan dalam filsafat orang Minangkabau alam takambang jadi guru.Ketika agama Islam masuk, pada hakikatnya tidak ada pertentangan antara adat Minangkabau dengan agama Islam, karena alam yang dijadikan pedoman hidup masyarakat Minangkabau adalah ciptaan Allah semata. Itulah sebabnya ketika Islam masuk langsung diterima oleh orang Minangkabau. Dalam sejarah, timbulnya Perang Paderi yang disebabkan pertentangan kaum adat dan kaum agama (Islam), semata-mata timbul karena politik adu domba Belanda. Namun kaum adat dan kaum agama segera mencari penyelesaian. Awal abad XIX dilaksanakan pertemuan pangulu tigo luhak beserta ulamanya. Pertemuan ini melahirkan Piagam Bukik Marapalam yang menegaskan bahwa antara adat dan Islam tidak bertentangan. Adat bapaneh, syarak balinduang. Syarak mangato, adat mamakai. Adat bapaneh, syarak balinduang maksudnya adat bagaikan tubuh, agama sebagai jiwa. Antara tubuh dan jiwa tidak bisa dipisahkan. Syarak mangato, adat mamakai maksudnya syarak memberikan hukum dan syariat, adat mengamalkan apa yang difatwakan agama. Simpulan piagam ini lazim disebut adat jo syarak sanda-manyanda, kemudian lebih dikenal lagi dengan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.

            Falsafah ini juga tidak muncul dengan serta merta begitu saja, akan tetapi juga telah melalui proses atau tahap-tahap perubahan. Setidaknya ada 7 tahap yang dilalui masyarakat Minangkabau yang animistik sampai mengikis kabiasaan hindu dan budha, akhirya sampai ke deklarasi ”adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah” :

  1. Sebelum Islam datang orang Minangkabau tidak mengenal kehidupan setelah mati (alam akhirat), adat hanya dibuat sebatas untuk orang hidup, sedangkan kalau sudah mati maka akan manjadi tanah, tidak ada lagi aturan yang akan menghukum, keyakinan mereka watu itu adalah ”hiduik di kanduang adat mati di kanduang tanah”, artinya, selama hidup manusia hidup dalam aturan adat, sedangkan kalau sudah mati mereka akan tinggal dalam tanah dan habis lah segala bentuk peraturan.
  2. Sewaktu Islam mulai masuk ke daerah Minagkabau, masyarakat banyak yang enggan menerima nilai-nilai Islam karena para da’I kurang sopan santun dan menarik simpati dalam menyampaikan dakwah Islam, timbullah sindiran yang mengatakan bahwa ”syarak batilanjang adat basisampiang” maksudnya, agama terlalu berterus terang, sedangkan adat bahasanya lebih halus. Perlu diingat bahwa pada saat itu pada dasarnya masyarakat Minangkabau tidak terbiasa dengan hal yang terlalu terus terang dan ”tegas” seperti bahasa agama.
  3. Untuk membendung arus Islam di masyarakat yang takut akan kehilangan identitas adat lama yang mereka pertahankan, makanya para pemuka adat dan cerdik pandai memuat suatu benang merah dengan membuat falsafah ”adat basandi alua syarak basandi kitabullah” artinya, adat itu berlandaskan pada kepatutan, sedangkan agama belandaskan pada kitabullah (al Quran). Dalm hal ini terlihat bahwa masih ada pemisahan antara adat dan agama.
  4. Melalui pembatasan itu, laju dakwah di rasa berjalan lamban di Minangkabau, maka pada waktu itu para ulama melakukan pendekatan secara kooperatif ”syarak mandaki adat manurun” syarak itu sehubungan dengan hal vertikal kepada Tuhan, adat berkenaan dengan kehidupan sosial.
  5.  Usaha yang dlakukan mandatangkan hasil, sehingga Islam diterima dalam membina hidup masyarakat Minangkabau, sampaia lah pada pepatah yang mengatakan ”syarak jo adat bak aua jo tabiang sanda ba sanda kaduonyo” maksudny adalah, agama dan adat ibaratkan batang aur dengan tebing, yang saling menguatkan satu dan yang lainnya.
  6.  Menyadari manfaat ajaran Islam yang mampu menyempurnakan ajaran adat pado proses selanjutnya ke taraf adat berdaulat kesyarak, itulah ungkapan dari ”syarak mangato adat mamakai” , agama memerintahkan, adat melaksanakan.
  7. Pengukuhan poin diatas dijadikan sebagai konsep bagi orang Binangkabau yaitu ”adat basandi syarak syarak basandi kitabullah”

 

Dari deskripsi historis di atas, dapat ditarik sebuah pemahaman bahwa bagi Masyarakat Minangkabau, agama dan adat adalah dua hal yang tak terpisahkan, di setiap aktivitas adat selalu berlandaskan pada fungsi penyampaian nilai-nilai agama. Jadi ada sebuah proses ”pengadatan’ atau enkulturasi nilai-nilai Islam melalui proses adat. Selanjutnya diharapkan proses tersebut bisa menghantarkan pada terinternalisasinya nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Pada pembahasan lebih lanjut, penulis mencoba untuk membongkar fungsi masing-masing dari upacara adat adalam enkulturasi dan internalisasi nilai-nilai Islam.

Satu hal lagi yang perlu dipahami tentang keunikan adat istiadat di Minangkabau adalah, bahwa adat telah ada jauh sebelum agama Islam masuk ke Sumatera Barat. Akan tetapi setelah Islam masuk, terjadi sebuah perubahan tahap-demi tahap yang akhirnya mejadikan Islam sebagai landasan pokok adat dan sistem adat. Maka oleh karena itu, segala perangkat sistem adat sebenarnya dapat dikatakan membudayakan Islam ke masyarakat dan menjadikan nilai-nilai Islam tersebut mendarah daging dalam pribadi anak nagari Minangkabau. Sebuah prinsip yang tetap kokoh dianut oleh masyarakat Minangkabau hingga saat ini adalah, kalau tidak beragama Islam berarti bukan orang Minang, sekiranya ada orang Minang yang murtad dari agama Islam, berarti juga harus siap untuk dibuang sepanjang adat, maksudnya dikucilkan atau tidak dianggap sebagai orang Minangkabau lagi dan diusir dari nagari. Berikut ini akan dibahas satu-persatu bagaimana upacara adat melaksanakan fungsi enkulturasi dan internalisasi nilai-nilai islam kepada masyarakat Minangkabau.

 

4.2. FUNGSI UPACARA ADAT

1. UPACARA SEPANJANG KEHIDUPAN MANUSIA

A. Upacara Turun Mandi

Secara fungsi adat, upacara turun mandi dimaksudkan untuk menghormati keturunan yang baru lahir dan berbagi kebahagiaan dengan masyarakat sekaligus memberitakan bahwa di kaum tersebut telah lahir keturunan baru. Dalam syariat Islam yang dicontohkan Rasulullah SAW ketika seorag anak lahir, maka akan diberikan setetes madu ke dalam mulutnya.  Hal ini selain bermakna kesehatam sebagai antobodi alamiah bagi anak tersebut, juga sebenarnya mengandung makna filoofis dalam rangka memperkenalkan kebaiakn kepada anak dari usia dini.

Enkultrasi budaya yang terjadi terhadap adat Minangkabau adalah dengan menjadikan upacara turun mandi ini berfungsi pembersihan anak yang  lahir dari segala pengaruh-pengaruh jahat dinia. Diharapkajn hakikat kesucian anak yang lahir akan tetap terjaga dari dini. Internalisasi nilai Islam yang ingin diwujudkan adalah bahwa seorang anak yang lahir adalah dalam keadaan fithrah, maka orang tuanya lah yang akan menjadikan anak tersebut nasrani atau yahudi. (Al Hadits) Jadi kebersihan fisik dan batiniah harus tetap dijaga oleh orang tua. Hal ini terus mengakar dalam perilkau masyarakat Minang dalam menyelenggarakan upacara turun mandi bagi setiap anak yang lahir. Meskipun zaman terus bergulir, namun budaya pelaksanaan upacar turun mandi ini tetap eksis di dalam masyarakat. Sebab dalam tataran pikiran dan keyakinan masyarakat Minangkabau upacara turun mandi ini tetap harus dilestarikan.

Jadi dapat dikatakan upacara yang dinamakan turun mandi dalam masyarakat Minangkabau adalah hasil enkulturasi dan internalisasi nilai-nilai Islam dalam memberikan tuntunan pendidikan untuk anak dari usia dini. Dari regerensi Al-Quran dan sunah Rasulullah SAW ditemukan bahwa ada minimal 2 tuntunan syariat yang harus dilaksanakan orang tua ketika mendapat rahmat dengan kelahiran anak di tengah keluarga mereka. Tuntunan tersebut adalah:

  1. Mentalqinkan atau memperdengarkan adzan atau iqamat kepada anak yang baru lahir. Hal ini sebagaimana dalam hadits Rasulullah yang maksudnya:

”Bukalah (pendegaran) anak-anakmu pertama kali dengan kalimat laa ilaha illallah, dan ajarkanlah kepada mereka yang akan sakaratul maut kalimat yang sama”

(H.R. Al-Hakim dari Ibnu Abbas r.a)

  1. Tahnik atau menyuapi bayi (memasukan) sejenis madu ke dalam mulut bayi, atau bisa juga dengan mengunyahkan kurma hingga halus, lalu dioleskan ke dalam mulut bayi. Hal ini juga suatu syariat yang pernah dilakukan Rasulullah.

 

B. Upacara Akekah

Upacara kekah (akikah) merupakan syariat agama Islam. Ini dimaksudkan sebagai upacara syukuran atas titipan Allah SWT berupa anak kepada kedua orang tuanya. Waktu pelaksanaannya bermacam-macam. Upacara dilaksanakan di rumah ibu si anak atau di rumah bakonya. Acara dimulai dengan pembukaan. Lalu seekor kambing disembelih, dibersihkan, lalu dimasak. Acara dilanjutkan dengan doa, lalu makan bersama.

Engkulturasi nilai yang ingin diperankan adalah bagaimana seorang anak yang lahir juga diajarkan oleh orang tuanya untuk memiliki tanggung jawab moral, memberikan makanan kepada orang yang membutuhkan dan penyembeliham kambing.n Masyarakat Minang diharapakan menjadi sorang pribadi muslim yang memilki kepekaan dan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat sosialnya.

Dari syariat Islam, secara lebih terperinci ada 3 kewajiban orang tua kepada anak yang berumur antara hari ke tujuh sampai dengan usia dua tahun :

  1. Memberikan nama yang baik. Rasulullah bersabda :

”Kewajiban orang tua (hak anak) adalah memberikan ama yang baik…”

(H.R Al-Baihaqi)

Adapun cara-cara memberikan nama yang baik adalah :

Ø      Menggunakan kata-kata yang memiliki arti yang baik

Ø      Mencontoh namanama Nabi AS

Ø      Merangkaikan sebuah kata dengan nama Allah (Misalnya abdurrahman, Abdurrazaq dan lain-lain)

Ø      Tidak menyerupai nama-naka orang kafir, agama lain, atau penguasa yang zhalim (Seperti Kristiani, Agustinus, Farao dan sebagainya)

  1. Mencukur rambut sampai habis rambutnya, ditimbang dan disetarakan dengan harga perak, lalu melumuri kepala bayi dengan za’faran (minyak wangi yang harum).
  2. Menebusnya dengan akekah 2 ekor kambing untuk bayi laki-laki dan seekor kambing untuk bayi perempuan. Hal ini bisa disesuaikan dengan kemampuan ekonomi kelurga yang akan melaksanakan akekah. Hal ini merujuk pada pendapat Imam Malik dalam bukunya Al Muwatho’ (Lihat manhajut tarbiyah an Nabawiyah lith Thifli, Muh Nur, Nur sawaid, hal 63-65).

 

Secara umum upacara yang dilaksanakan untuk anak umur 0 samai eengan 2 tahun ini dimaksudkan untuk encapai cita-cita orang tua yang mendapatkan anak yang menyejukan mata (qurrotu a’yun) Paling tidak dalam Al-Quran disebutkan empat golongan anak :

  1. Anak yang menjadi qurratu a’yun yaitu anak yang menyejukan mata dan menyenangkan hati, karena tingkah lakuknya yang Islami dan sopan santun (QS. Al-Furqan : 74). Inilah anak yang diidamkan setiap orang tua. Keluhuran dan kemulyaan akhlak senantiasa menghiasi setiap geraknya, mencintai orang tuanya, dan membantu keselamatan mereka di alam akhirat kelak. Rasululha SAW bersabda :

”Apabila anak adam meninggal dunia, maka terputusah amalannya kecuali tiga perkara, yakni shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang selalu mendoakannya.

(H.R Bukhari, Muslim, dan Abu dawud)

  1. Anak yang menjadi musuh (QS. At-Taghobun : 14)

Anak menjadi ancaman bagi orang tua, bahkan bisa menyeret mereka masuk ke dalam neraka

  1. Anak sebagai fitnah (QS. At-Taghobun : 15)

Ia akan menjadi ujian keimanan orang tuanya, bahkan akan membuat aib keluarga, karena perbuatannya yang melanggar norma-norma gama dan masyarakat. Tidak bisadikendalikan dan tidak mempan oleh nasehat.

  1. Anak bisa pula menjadi zinah (QS. Al-Kahfi : 46)

Ia hanya bisa dipajang, dipandang dan dikagumi saja karena ketampanan / kecantikannya, atau kepandaiannaya. Gelar yang ia sandang, jabatan duniawi semata yang tidak terkontrol oleh agama.

 

C. Upacara Sunat Rasul (Khitanan)

Sunat Rasul juga merupakan syariat Islam, tanda pendewasaan bagi seorang anak laki-laki. Upacara biasanya diselenggarakan waktu si anak berumur 8-12 tahun, bertempat di rumah ibu si anak atau di rumah keluarga terdekat ibu si anak. Acara dimulai dengan pembukaan, lalu si anak disunat, selanjutnya doa.

Enkulturasi budaya khitanan ini adalah dalam rangka mengikuti sunna Rasulullah SAW dan nabi-nabi terdahulu. Khitanan ini identik dengan penyucian diri. Karena seorang muslim yang kan melaksanakan sholat mreka wajib bersuci (taharah) terlebih dahulu. Untuk lebih meriahnya acara ini  biasanya juga diiringi dengan selamatan dan ungkapan suka cita karena mereka telah melaksanakan salah satu kewajiban sebagai muslim.

Dasar syariat agama yang dipakai untuk upacara khitanan ini adalah sabda Rasulullah SAW yang artinya sebagai berikut :

”Fithrah (kesucian) manusia itu ada lima : yaitu khitan, mencukur rambut kemaluan, memotong kumis, memotong kuku, dan mencabut buku ketiak”

(H.R. Muttafaq ’Alaih).

 

D. Upacara Tamaik Kaji (Khatam Al Quran)

Tamaik kaji (khatam AlQuran) diadakan bila seorang anak yang telah mengaji di surau sebelumnya tamat membaca Al-Quran. Acara diadakan di rumah ibu si anak atau di surau/masjid tempat anak itu mengaji. Si anak disuruh membaca Al-Quan dihadapan seluruh orang yang hadir, dilanjutkan dengan makan bersama. Acara ini biasa pula dilakukan beramai-ramai.

Membaca Al-Quran adalah kewajiban dan bernilai pahala. Namun tidak semua orang bersemangat dan mau membaca Al-Quran dengan berbagai alasan, seperti kesibukan dan lain-lain. Upacara adat yang berlandaskan Islam ini memerankan fungsi dalam membudayakan membaca Al-Quran dengan memberikan semangat untuk membaca Al-Quran. Acara ini sengaja dibuat semeriah mungkin agar masyarakat menjadi tertarik untuk membaca Al-Quran atau paling tidak merasa terpanggil untuk menyerahkan anaknya belajar mengaji Al-Quran ke surau.

Kelak warga masyarakat sudah terbiasa deengan A;l-Quran maka pada gilirannya dharapkan setap tindakan dan perilaku mereka akan merupakan pencerminan dari nilai-nilai Al-Quran tersebut.

E. Upacara Manjalang Guru

Setelah melalui upacara-upacara pada masa kehamilan dan sampai lahir dan seterusnya maka dilanjutkan dengan acara-acara semasa remaja dan terutama sekali bagi anak laki-laki. Pada masa remaja ada pula acara-acara yang dilakukan berkaitan dengan ilmu pengetahuan adat dan agama.

Islam sangat memuliakan pekerjaanmenuntut ilmu, banyak referensi ayat dan hadits yang menganjurkan untuk menuntut ilmu, ayat yang pertama turun (Al-Alaq) juga merupakan tuntunan untuk menimba ilmua. Rasulullah bersabda ”tuntutlah ilmu dari ayunan sampai dengan liang lahat”. Di hadis yang lain Rasulullah SAW juga menganjurkan umat Islam untuk menuntut ilmu ke negeri Cina sekalipun. Masyarakat Minang mencoba membudayakan nilai menuntut ilmu ini bagi masyarakatnya. Dan hal itu dimulai dengan cara memuliakan guru sebagai orang yang berperan penting dalam memberikan ilmu yang bermanfaat.

      Fungsi internalisasi nilai islam yang ingin dicapai dengan upacara adat ini adalah agar setiap masyarakat menyadari pentingnya menuntur ilmu dan memuliakan orang yang mengajarkan ilmu. Dan hal itu tenyata cukup terbukti dengan cukup baiknya reputasi dan penghargaan masyarakat terhadap guru. Guru diharapkan akan mampu menjadi orang yang terdekat kepada anak setelah orang tua dalam memberikan pembinaan-pembinaan agam dan moral kebaikan. Dalam syariat Islam, inti dari pendidikan kepada anak sebenarnya adalah serangkaina usaha dalam rangka menyelamatkan fitrah Islamiah seorang anak. Setiap anak yang terlahir ke dunia ini menurut pandangan Islam telah membawa fitrah Islamiyahnya. Maka orang tua berkewajiban menyelamatkannya dengan usaha-usaha yang nyata. Dalam Al-Quran surat Al-a’raf ayat 172 Allah telah mengambiul saksi tatkala mereka dikeluarkan dari tulang sulbi, Allah berkata kepada mereka :

”Bukankah Aku ini Allah rabb  kalian? Mereka menjawab, benar Engkau adalah rabb kami, kami bersaksi.

Disamping menjaga fitrah keislaman, dalam rangka mewujudkan generasi Islam yang berakhlakul karimah maka orang tua juga berkewajiban untuk mengembangkan potensi fikir anak, potensi rasa anak, potensi karsa anak, potensi kerja anak, dan porensi kesehatan anak.

Dalam masyarakat Minangkabau, fungsi-fungsi pembudayaan dan internalisasi nilai pendidikan Islam (tarbiyah islamiyah) tersebut diwujudkan dengan rangkaian upacara adat yang dikenal dengan manjalang guru. Adapun lebih detailnya tentang upacara manjalang guru tersebut adapt diuraikan sebagai berikut :

  1. Manjalang guru (menemui guru) untuk belajar. Orang tua atau mamak menemui guru tempat anak kemenakannya menuntut ilmu. Apakah guru dibidang agama atau adat. Anak atau keponakannya diserahkan untuk dididik sampai memperoleh ilmu pengetahuan yang diingini. Dalam Islam dijarkan bahwa ilmu itu harus dicari bukan hanya ditunggu. Menuntut ilmu berawal dari kepatuhan dan memuliakan guru.
  2. Balimau. Biasanya murid yang dididik mandi berlimau dibawah bimbingan gurunya. Upacara ini sebagai perlambang bahwa anak didiknya dibersihkan lahirnya terlebih dahulu kemudian diisi batinnya dengan ilmu pengetahuan.  Makna filosofisnya dalah bagaimana dalam Islam Rasulullah juga dimandikan oleh Malaikat ketika akan diangkat jadi nabi, sepertinya dicoba diaplikasikan melalui upacara ini
  3. Batutue (bertutur) atau bercerita. Anak didik mendapatkan pengetahuan dengan cara gurunya bercerita. Di dalam cerita terdapat pengajaran adat dan agama. Hla ini terus dibudayakan sebagai pembawa fungsi pendidikan nilai-nilai Islam. Dalm Al-Quran sendiri hampir setengahnya juga berisi cerita tauladan tentang orang shaleh zaman terdahulu untuk jadi acuan dan diambil ibrahnya oleh masyarakat muslim hari ini.
  4. Mangaji adat istiadat. Di dalam pelajaran ini anak didik mendapat pengetahuan yang berkaitan dengan Tambo Alam Minangkabau dan Tambo Adat. Peljaran ini berfungsi untuk membudayakan nilai historis yang ada dalam mustika adat Minangkabau.
  5. Baraja tari sewa dan pancak silek (belajar tari sewa dan pencak silat). Untuk keterampilan dan ilmu beladiri maka anak didik berguru yang sudah kenamaan. Dalam islam diajarakan bahwa mukmin yang kuat jauh lebih baik dari muknin yanh lemah. Rasulullah juga mengajarkan bahwa anak laki-laki harus diajar berkuda dan memanah
  6. Mangaji halam jo haram (mengaji halal dengan haram). Pengetahuan ini berkaitan dengan pengajaran agama. Yang membedakan orang Islam dengan agama lain adalah kepatuhan kepada hukum Allah SWT, mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram. Oleh karena itu, pelajaran tentang halal dan haram ini perlu diberikan sejak dini
  7. Mangaji nan kuriek kundi nan merah sago, nan baiek budi nan indah baso (mengaji yang kurik kundi nan merah sago, yang baik budi nan indah baso), pengajaran yang berkaitan dengan adat istiadat dan moral. Akhlakul karimah, bertutur kata dengan sopan santun adalah nlai-nilai Islam yang ingin dibudayakan dan dinternalisasikan dengan pelajaram ini.

F. Upacara Perkawinan

Setelah seseorang memasuki usia dewasa, maka upacara selanjutnya adalah upacara perkawinan. Pada umumnya masyarakat Minangkabau beragama Islam, oleh karena itu dalam masalah nikah kawin sudah tentu dilakukan sepanjang Syarak. Dalam pelaksanaan nikah kawin dikatakan “nikah jo parampuan, kawin dengan kaluarga”. Dengan pengertian ijab kabul dengan perantaraan walinya sepanjang Syarak, namun pada hakekatnya mempertemukan dua keluarga besar, dua kaum, malahan antara keluarga nagari. Pada masa dahulu perkawinan harus didukung oleh kedua keluarga dan tidak membiarkan atas kemauan muda-mudi saja. Menikahkan anak merupakan salah satu kewajiban orang tua dalam agama Islam. Oleh karena itu, orang tua harus melaksanakan proses pernikahan bagi anak-anaknya dengan cara sebaik mungkin sesuai dengan tuntunan syariat, agar kewajiban ini tertunaikan dan mendapat imbalan ibadah dari Allah SWT. Berkenaan dengan hal ini rasulullah SAW bersabda yang maksudnya :

”Hak anak-naka atas orang tua (kewajiban orang tua terhadap anak) adalah memberi nama yang baik, mengjarkan adab yang mulia, mengajarkan baca tulis, berenang, memanah, memberikan nafkah yang baik lagi halal, serta menikahkan mereka jika sudah cukup dewasa”

(H.R Al-Hakim)

Nilai-nilai Islam yang mulia tentang tuntunan syarita pernikahan ini diterjemahkan dalam adat Minangkabau dengan beberapa upacara adat, sekaligus upcara adat ini membawa fungsi menginternalisasikan nilai-nilai luhur Islam tersebut. Upacara-upacara berkenaan dengan pernikahan adalah sebagai berikut :

  1. Pinang-Maminang

Acara ini diprakarsai pihak perempuan. Bila calon suami untuk si gadis sudah ditemukan, dimulailah perundingan para kerabat untuk membicarakan calon itu. Pinangan dilakukan oleh utusan yang dipimpin mamak si gadis. Jika pinangan diterima, perkawinan bisa dilangsungkan.

Dalam agama Islam tidak dibenarkan terjadinya pergaualan yang tidak terbatas antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim. Dalam Al-Quran (surat An Nur) pergaulan yang tanpa batas itu disebut dengan bahas arab ikhtilat dan khalwat, artinya campaur baur laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim serta berdua-duaan di tempat sunyi. Bila laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim berdua-duaan di tempat sunyi, Rasulullah mengingatkan bahwa dikhawatiri yang ketiga adalah syetan. Syetan akan selalu menjerumuskan manusia ke lembah dosa.

Adat Minang memilki cara tersendri dalam mengatur pergaulan muda-mudi sebelum mereka melangkah ke jenjang pernikahan. Tidak dibenarkan ada pergaulan yang melampaui batas. Karena memang dalam agama Islam tidak ada istilah pacaran , bahkan pacaran yang islami sekalipun, karena ujung-ujungnya pasti akan menuju pada ikhtilat dan khalwat tadi. Dalam agama islam diberikan solusi untuk mengatur pergaulan ini dengan sebuah tata cara yang bernama khitbah (meminang) dan nikah.

Dalam rangka enkulturasi khitbah ini lah dalam adat Minang dilestarikan budaya meminang, diman biasanya keluarga perempuan akan datang ke tempat laki-laki Dalm proses upaara adat tesebut mereka menerapkan ketentuan adat dan kelaziman yang berlaku tentang siapa yang akan pergi meminang, apa yang harus dibawa dan sebagainya. Biasanya yang pergi meminang adalah mamak (paman) keluarga perempuan dan bebepa orang sumando. Dalam upcara pinang-meminang ini barangkali ada beberapa pendapat yang mengatakan hal ini sebagai pembatasan hak-hak mereka oleh generasi  muda saat ini, karena memang anak muda hari ini lebih suka permisif, menentukan pilihan sendiri, merasakan sendiri pergaulan pacaran, bahkan langsung meminang sendiri calon yang diinginkannya. Akan tetapi pelestarian nilai memimang ini sebenarnya punya tujuan yang lebih besar dalam rangka menjaga harkat dan martabat keluarga dan kaum. Sebab kalau sempat terjadi perzinahan atau hamil di luar nikah, hal itu merupakan aib yang sangat besar bagi masyarakat Minang.

Internalisasi niai-nilai islam terwujud dalam fungsi upacara pinangan ini dalam mengejawatahkan nilai-nilai dalam Al-Quran yang mengatakan bahwa laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik, sebaliknya laki-laki pezina adalah untuk perempuan pezina. Segala sesuatu yang baik haruslah dimulai dengan hal yang baik. Perkawinan adalah suatu hal yang mulia, maka juga jaris dimulai dengan cara-cara yang mulia. Salah satunya adalah dengan prosesi pinangan. Walaupun ada sebagian kecil keluarga yang mengaku modern tidak begitu patuh dengan upacara pinagan ini , akan tetapi dapat dikatakan fungsi upacara pinang- meminang masih tetap dirasakan dalam masyarakat hingga saat ini.

 

 

  1. Batimbang Tando

Batimbang tando adalah upacara pertunangan. Saat itu dilakukan pertukaran tanda bahwa mereka telah berjanji menjodohkan anak kamanakan mereka. Setelah pertunangan barulah dimulai perundingan pernikahan.

Budaya batimbang tando ini sebenarnya adalah sebagi ungkapan simbolis bahwa seseorang yang telah bertukar tanda, biasanya dalam bentuk cincin tidak diperbolehkan lagi bergaul secara bebas dengan wanita atau laki-laki lain. Budaya ini berfungsi dalam menepis kebiasaan buruk masyarakat jahiliyah yang bertukar-tukar pasangan, gemar mengganggu wanita lain dan sebagainya. Biasanya seseorang yang telah bertukar tanda akan merasakan ikatan moral untuk lebih setia kepada pasangannya.

Internalisasi fungsi bertukar tanda ini akan berakibat pada lebih terkungkungnya potensi pergaulan bebas yag terjadi dalam masyarakat muda pada khususnya. Sebuah fenomena menyeramkan yang seing kita dengar di media masa dewasa ini adalah berjangkitnya virus HIV / AIDS disebabkan pergaulan bebas. Para wanita modern kehlingan keperawanannya karena telah diserahkan kepada teman dekat atau pacar pada acara ulang tahun, tahun baru dan sebagainya. Padahal bagi mereka yang tahu bahwa mereka telah bertukar tanda dengan tunangannya, akan ada ketenangan yang didapatakan ,mereka harus menjaga kesucian diri untuk calon suami atau istrinya kelak. Hal ini jauh lebih terhormat dan bermartabat. Dan memang itulah yang ingin dituju oleh Islam dengan pembataasn pergaulan bebas muda-mudi ini.

 

  1. Malam Bainai

Bainai adalah memerahkan kuku pengantin dengan daun pacar/inai yang telah dilumatkan. Yang diinai adalah keduapuluh kuku jari. Acara ini dilaksanakan di rumah anak daro (pengantin wanita) beberapa hari sebelum hari pernikahan. Acara ini semata-mata dihadiri perempuan dari kedua belah pihak.

Meskipun tidak ada rujukan yang langsung dan kuat antara adat bainai dengan  syariat Islam, akan tetapi hal ini bisa dianggap sebagai ungkapan simbolis, bahwa akan ada proses pernikahan. Mirip dengan batimbang tando pada poin sebelumnya, orang yang bainai berarti orang yang akan/sudah menikah. Secara nilai fungsi, adat bainai ini akan mengingatkan diri pribadi sianak daro bahwa ia adalah calon istri / istri orang, ia adalah menantu kelurga besar suaminya, maka ia harus menjaga sikap. Paling tidak untuk menjaga matrabat diri, dan lebih jauh dari itu adalah untuk menjaga nama baik keluarga besar dia dan suaminya.

 

  1. Pernikahan

Pernikahan dilakukan pada hari yang dianggap paling baik, biasanya Kamis malam atau Jumat. Acara pernikahan diadakan di rumah anak daro atau di masjid.

Cara yag paling mulia untuk menuntun pergaulan laki-laki dan prempuan yang telah memenuihi syarat adalah dengan menikah. Enkulturasi syariat menikah ini dalam masyarakat Minang terlihat dari proses adat menikah yang dilaksanakan pada umumnya di masjid. Sepertinya sudah menjadi sebuah tradisi bagi masyarakat untuk menjadikan masjid tidak hanya sebagai tempat beribaah dalam artian tempat sholat semata, akan tetapi juga memulai kehidupan baru bagi mereka yang menikah. Prosesi berjalan secara Islami.

Nilai-nilai yang ingin dinternalisasikan baik bagi kedua mempelai dan keluarga serta orang yang hadir sebenarnya adalah pesan moril untuk selaku dekat dengan masjid, memulai aktivitas dari masjid, dalam artian selalu dengan niat beribadah kepada Allah SWT. Dengan demikian juga diharapkan akan lahir anak-anak yang shaleh dan beriman.

 

  1. Basandiang dan Perjamuan

Basandiang adalah duduknya kedua pengantin di pelaminan untuk disaksikan tamu-tamu yang hadir pada pesta perjamuan. Kedua pengantin memakai pakaian adat Minangkabau. Acara biasanya dipusatkan di rumah anak daro, jadi segala keperluan dan persiapan dilakukan oleh pihak perempuan.

Rasulullah mengajarkan umatnya apabila melaksanakan pernikahan maka adakanlah selamatan sebagain ungkapan syukur dan dalam rangka memberitahu kepada masyarakat luas bahwa telah menikah salah seorang dari anggota keluarga mereka. Hikmah dari budaya pejamuan ini adalah disamping menambah kerekatan tali silaturahim juga diharapkan akan terhambatnya fitnah yang mungkin saja muncul ditengah masyarakat diakibatkan karena mereka tidak tahu bahwa si A dengan si B telah menikah. Ada sebuah kebiasaan di masyarakat Minang yang masih menganut budaya dengan kuat, jika ada orang berjalanan berduaan bergandegan tangan antara laki-laki dan perempuan, maka mereka bisa potensial untuk menjkadi bahan pergunjingan dan fitnah. Bisa dibayangkan jika ada suami istri yag jalan berduaan, tetapi orang tidak tahu kalu mereka sudah menikah, tentulah akan mengundang orang lain berbuat dosa dengan bergunjing.

Internalisasi nilai islam yang menjauhi prasangka dan gunjing karena dianggap seperti memakan bangkai saudara sendiri, hal ini bisa dihindarkan dengan  budaya pajamuan ini. Dalm suatu riwayat disebutkan bahwa ketika Rasulullah bari menikah dengan Aisyah r.a dan ketika mereka keluar dari masjid berjalan bersama, Rasulullah berkata pada orang yang ditemuinya ” dia adalah istriku” hal tersebut dimaksudkan untuk menghinndari parasangka dan bergunjingnya orang lain. Hal tersebut diaplikasikan oleh masyarakat Minang melalui budaya resepsi atau pejamuan.

 

  1. Manjalang

Manjalang merupakan acara berkunjung. Acara ini dilaksanakan di rumah marapulai (pengantin laki-laki). Para kerabat menanti anak daro yang datang manjalang. Kedua pengantin diiringi kerabat anak daro dan perempuan yang menjujung jamba, yaitu semacam dulang berisi nasi, lauk pauk, dsb.

Dalam perspektif Islam, pernikahan tidak hanya sebatas pertautan antara dua orang yang menikah akan tetapi lebih dari itu, pernikahan merupakan suci dan persaudaraan dua keluarga besar pihak laki-laki dan perempuan. Untuk memulai bukti ikatan tersebut maka dadakanlah budaya saling berkunjung dan saling bertukar hadiah.

Hal ini terus berlanjut, biasanya bagi pasangan suami istri yang tinggal berjauhan dari orang tua dan mertua mereka, maka pada momen tertentu mereka akan datang mengunjungi keluraga besar dengan membawakan hadiah berupa makanan dan sebagainya Biasanya dilaksanakan pada bulan puasa dan lebaran.

Internalisasi nilai yang ingin dicapai dengan aupacara ini adalah terwujudnya keauatan uhkhuwah dan budaya saling menghragai. Rasulullah adalah seseorang yang tidak mau menerima suap, tapi menghalalkn pemberian hadiah. Dalm isalm meberika hadiah berfungsi sebagai perekat tali persaudaraan.

 

 

G. Upacara Kematian

Akhir kehidupan di dunia adalah kematian. Pada upacara yang berkaitan dengan kematian tidak terlepas dari upacara yang berkaitan dengan adat dan yang bernafaskan keagamaan. Pergi melayat (ta’ziah) ke rumah orang yang meninggal merupakan adat bagi orang Minangkabau. Tidak hanya karena dianjurkan ajaran Islam, tapi juga karena hubungan kemasyarakatan yang sangat akrab membuat mereka malu bila tidak datang melayat. Upacara kematian dimaksudkan sebagai upacara penghormatan terakhir pada almarhum/ah. Umumnya upacara kematian lebih mengutamakan hal-hal yang wajib dilaksanakan menurut syariat Islam, yakni penyelenggaraan jenazah. Pada acara ini juga diiringi pidato/pasambahan adat. Selanjutnya ada pula acara peringatan, seperti peringatan tujuh hari (manujuah hari), peringatan duo puluah satu hari, peringatan hari ke- 40, lalu peringatan pada hari yang ke-100 (manyaratuih hari).

Acara-acara yang diadakan sebelum dan sesudah kematian adalah sbb:

  1. Sakik basilau, mati bajanguak (sakit dilihat, mati dijenguk)

Sudah menjadi sebuah tradisi bagi masyarakat Minagkabau untuk selalu menjenguk sesorang yang sakit. Hal ini adalah sebuah pembudayaan nilai Islam yang mengajarkan untuk selalu menjaga tali silaturrahim dengan sesama muslim. Bahkan dalam contoh tauladan yang diberikan rasulullah SAW, beliau juga menjenguk seorang yang saki meskipun orang tersebut kafir dan mengejek beliau. Inti dari kegiatan sakik basilau ini adalah untuk menunjukkan rasa persaudaraan muslim. Stelah nilai ini melebur dengan adat Minangkabau, biasanya bagi mereka yang datang menjenguk orang yang sakit tidak hanya datang dengan tangan hampa, akan tetapi biasanya juga dengan membawa beberapa jenis buah tangan  seperti makanan dan minuman yang bisa untuk membantu dan meringankan beban orang yang sakit tersebut secara khusus dan keluarga si sakit pada umumnya.

Internalisasi nilai-nilai Islam yang bisa dilihat dari upcara sakik basilau ini adalah, bahwa setiap warga masyarakat sepertinya sudah terpanggil secara spontan untuk manyilau orang yang sakit tanpa perlu dikomandoi atau diperintah. Namun sudah spontan saja terorganisir dan seolah-olah sudah menjadi sebuah keharusan sekaligus kebutuhan.

Sekiranya ada seorang warga yang meninggal, maka upacara adat yang berlaku disebut mati dijanguak. Dalam Islam seorang muslim harus dihormati baik ketika dia masih hidup dan juga setelah dia mati. Kematian dalam Islam adalah merupakan salah satu bentuk ujian keimanan (Al-Baqarah 165). Untuk itu bagi keluarga yang mendapat musibah kematian haruslah dihibur dan ditolong secara bersama-sama. Nilai-nilai ini sepertinya telah terenkulturasi dalam masyarakat Minangkabau dimana ketika ada orang yang meninggal maka biasanya akan berduyun-duyunlah semua warga pergi ke rumah duka. Waktu dahulu sebelum ada alat komunikasi seperti yang canggih saat ini, ketika ada orang yang meninggal maka alat komunikasi yag dibunyikan adalah tabuh yang dipukul dengan jumlah pukulan tertentu, tapi saat ini sudah diumumkan di masjid-masjid dan mushala. Ketika berita duka itu terdengar, warga biasanya meninggalkan pekerjaan mereka untuk menyempatkan diri membezuk ke rumah duka.

Internalisasi nilai islam adalah fungsi aupacara ini dalam membentuk perilaku untuk merespon berita duka ketika ada orang yang meninggal. Menjenguk orang yang meninggal tidak terbatas hanya pada karib kerabat atau saudara saja, akan tetapi adalah atas dasar persaudaraan yang mendalam. Dalam Islam disebutkan bahwa salah satu hak saudara muslim atas saudara muslimnya adalah, ketika ia meninggal maka ia berhak untuk dibezuk oleh saudaranya.

  1. Anta kapan dari bako (antar kafan dari bako)

Syari’at Islam mengajarkan bahwa orang yang mati harus diselenggarakan dengan syariat yag telah ditentukan. Salah satunya adalah mengkafani si mayat dengan kain putih. Jumlahnya ganjil, tiga, lima, sampai degan tujuh lembar. Masyarakat Minagkabau membudayakan syariat ini dalam upacara adat maanta kafan dari bako. Enkulturasi ini sudah berjalan cukup lama, dimana ketika ada seorang yang meninggal, maka pihak bako (pihak kelurga ayah) akan mengantarkan kain kafan.

Hal ini sudah menginternalisasi dalam kehidupan masyarakat Miangkabau, karena tudak ada faktor imbal jasa atau perhitungan materi dalam adat maanta kain kafan ini, tetapi hal aini sudah menjadi kebiasaan dan keyakinan yang mendarah daging bahwa setiap ada pihak keluarga yang meninggal maka pihak bako akan maengantarkan kain kafan. Hal ini memilki makna filosofis yang mendalam bagi masyarakat Minang, karena ketika seseorang meninggal maka harus diringankan bebannya. Disamping itu, tali silaturrahim harus tetap terjaga dengan kelurga yanag ditinggakan. Seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah tentang apa yang harus dulakukannya dalam rangka mengabdi kepada orang tuanya yang sudah meninggal, maka Rasulullah bersabda ”sambungkanlah tali silaturrahim dengan orang yang disilaturrahimi orang tuamu dahulu.” Hal ini diamalkan dengan cukup baik oleh masyarakat Minang, bahwa sebenarnya ketika seseorang meninggal, maka pihak bako seakan-akan terputus hubungan keluaranya. Akan tetapi ini hal ini cepat dioabti denga maanta kain kafan kepada kelaurga yang ditinggalkan sebagai simbol pertalian kekeluargaan yang akan tetap terjalin.

  1. Cabiek kapan, mandi maik (mencabik kafan dan memandikan mayat)

Budaya mancabiek kain kafan dan memandikan mayat adalah acara adat yang murni berasal dari ajaran Islam. Acara ini biasanya dipimpin oleh seorang yang dituakan atau orang shaleh, kemudian diikuti oleh pihak keluarga. Jenazah perempuan dimandikan oleh perempuan, begitu juga jenazah laki-laki dimandikan oleh laki-laki, kecuali bagi keluarga atau muhrim yang berlawanan jenis boleh ikut memandikan.

Kerjasama yang baik dalam memandikan mayat ini sepertinya bisa dikatakan sebagai internalisasi nilai-nilai Islam di dalam masyarakat. Bagi rumah yang kekurangan sumber air, maka para pelayat yag datang biasanya membudayakan membawa minimal masing-masing satu drigen air yang nantinya akan diapakai untuk memandikan jenazah. Para kaum bapak biasanya mencari tandu yang biasa dilsimpan di masjid sebagai tempat memandikan jenzah. Atau kalau tandu khusus yang disediakan tidak ada, mereka akan bersama-sama membuat tempat balai-balai untuk memandikan si mayat.

  1. Kacang pali (mengantarkan jenazah kek kuburan)

Prosesi adat slanjutnya yang diambil dari nilai Islam adalah mengantar jenazah ke kuburan. Hal ini sudah membudaya bagi masyarakat, bahwa mereka tidak akan kembali ke rumah mereka sebelum mengantarkan jenazah ke kuburan. Terkadang jarak kuburan cukup jauh dari tempat domisisli namun semuanya tetap kompak untuk melaksanakan kewajiban syariat Islam menguburkan jenazah ini.

Nilai-nilai yang menginternal dalam masyarakat tercermin dalam panggilan moral dan ketulusan menghantarkan prosesi pemakaman ini sampai berakhir. Semua ini dilakukan dengan ikhlas dan murni sebagai perwujudan rasa cinta terhadap saudara seiman, sakampuang dan senagari.

  1. Doa talakin panjang di kuburan

Prosesi terakhir di hari pelaksanaan jenazah adalah pembacaan doa dan menyiram kuburan dengan air. Seorang orang shaleh atau alim ulama nagari akan memimpin doa yang dipanjatkan untuk si mayat dan para hadirin yang datang akan mengaminkan, setelah itu mereka menyiramkan air yang telah disediakan di kuburan, menutup kuburan denga dedauan dan baru pergi meninghalkan kuburan kembali ke tempat mereka masing-masing.

  1. Mengaji tiga hari dan memperingati dengan acara hari ketiga, ketujuh hari, keempat puluh hari, dan seratus hari.

Proses adat tidak hanya samapai pada prosesi penguburan jenazah, akan tetapi berlangsung dengan acara-acara yang disebut manigo ari, manujuah ari, ampek puluah, saratuih, dan seterusnya. Pada setiap momen tersebut, sudah membudaya di tengah masyarakat untuk betrakziah ke rumah duka. Siang harinya kaum ibu akan membantu keluarga duka memasak dan menyiapkan beberapa makanan kecil. Bahan-bahan itu biasanya merupakan hasil sumbangan dari warga. Malahan biasanya keluarga duka akan mendapatkan beras dan makanan  yang berlebih ketika terjadi musibah. Malam harinya, pada umumnya kaum bapak dan sebagian ibu-ibu yang berkesempatan dan dekat tempat tinggal akan melakukan pembacaan ayat-ayat Al-Quran yang pahalanya diniatkan untuk almarhum/ah. Prosesi itu terus berlanjut sampai peringatan hari yang keseratus.

Internalisasi nilai-nilai Islam begitu kental terasa dalam rangka fungsi menjaga kekompakan dan ketuhan tali silaturrahim warga. Dengan sebuah pepatah adat ”rigan samo dijinjiang, barek sami dipikua, tatungkuik samo makan tanah, talintang samo minum ambun” Maksudnya perasaan senasib, sepenanggungan. Inilah yang menjadi inti pelajaran Islam dengan kekutan ukhuwah Islamiyah.

4.3. ATRIBUT DALAM UPACARA ADAT

A. Atribut Tirai dalam Upacara Adat

Di samping tata cara upacara, atribut yang digunakan dalam upacara juga membawa fungsi enkulturasi dan internalsasi nilai-nilai Islam dalam adat Minangkabau. Salah satu atribut yang lazim digunakan adalah tirai. Tirai juga disebut langit-langit seperti juga tabir, bagian dari atribut adat dan digunakan dalam upacara adat, baik dalam upacara aspek adat istiadat maupun dalam upacara adat aspek syara’ (Islam). Dalam penggunaannya tirai merupakan bagian karya fann zukhrufiyah (seni dekoratif) menghiyasi tempat upacara adat, menambah kesemarakan dan kehangatan upacara adat itu dan indah. Karena ada nilai keindahan (estetika/ jamal) maka dapat dipastikan dari perspektif fungsinya ada nuansa ke-Islaman. Karena, ke-indahan dalam budaya Islam, bagian penting kehidupan umat Islam itu sendiri bahkan digunakan orang arif dalam Islam sebagai canel berhubungan dekat dengan Allah swt. Karenanya pula menarik menyidik tirai sebagai atribut adat Minangkabau dalam perspektif seni Islam.
Namun keindahan yang di dengar, dibaca, dilihat dan dirasa itu mengikuti identitas seni yang bernafaskan Islam mengikuti Muhammad Quthub (1973) menaruh tiga nilai yakni: (1) mau’izhah (advis/ pengajaran yang indah), (2) hikmah (wisdom) dan (3) irsyadah (guidance/ memberi arah lurus ke jalan yang benar). Juga yang dinikmati (didengar, dibaca, dilihat dan dirasa) itu oleh penikmat seni ada dalam batas tiga (3) kontrol yakni dirumuskan dengan 3ka: (1) estetika (indah), (2) erotika (erotis sebatas tidak memasuki wilayah fornografi) dan dikontrol (3) etika (menerima yang baik menolak yang buruk seperti keindahan yang kering dari nilai dan roh agama serta menolak nilai yang tidak menjiwai adat seperti fornogarafi yang merangsang seksualitas penikmat seni).

            Sebagai salah satu aset budaya, Tirai dalam upacara adat di Minangkabau dipakai pada alek aspek adat maupun alek aspek syara’. Tidak banyak sumber tertulis ditemui selain dalam kaba dan novel Minang, bahkan nyaris langka diskursus (wacana ilmiah) yang menjelaskan tentang tirai, bahkan kamus Minang pun tidak banyak menjelaskan tentang tirai langik-langik tempat upacara adat Minang itu. Tirai langik-langik barvariasi di berbagai nagari di Minang. Pada dasarnya terlihat bentuk empat persegi seperti kotak tertelungkup, yang menutupi seluruh areal ruang depan persandingan anak daro dengan marapulai. Tirai ini lebih besar dari layang-layang. Pada bagian tepi tirai langik-langik ini biasanya diberi jurai-jurai yang terbuat dari seng tipis dengan bertahtakan kuning emas sehingga bila diterpa cahaya dari kejauahan akan memancarkan pantulan cahaya yang berkilauan. Selain itu, pada pinggiran kain langik-langik ini dihiasi berbagai motif sulaman.

           Alah satu bentuk tirai adalah Tirai balingka, sejenis tirai yang memiliki warna aneka ragam. Ada warna hitam, kuning, dan warna merah. Ketiga warna itu merupakan simbol dari daerah Minangkabau, yaitu luhak nan tigo (Tanah Datar, Agam dan 50 Kota) dan menaruh kekayaan spirit masyarakat adatnya. Pada tirai itu ada komponen disebut lidah-lidah, karena memang bentuknya seperti lidah. Namun yang lebih tepatnya lagi adalah berbentuk seperti dasi yang sering digunakan laki-laki, yaitu panjang serta diujungnya berbentuk agak lancip. Jenis lidah-lidah ini ada yang bersulamkan benang emas, ada pula yang bertaburkan bintang dan ada pula yang memakai kaca kegemerlapan. Di dalam lidah-lidah itu ada pula komponen angkin, adalah sejenis aksesori atau atribut yang menyela di antara lidah-lidah. Angkin terbuat biasanya terbuat dari beludru atau kain saten. Selain itu, angkin sering juga diberi hiasan berupa manik-manik api yang bermotif flora atau fauna. Dapat juga jadi penjelasan tambahan, tirai pada fenomena histories masa lalu (tempo doeloe) bentuknya dua bentuk fann zukhrufiyah (seni dekoratif). Pertama bermotif paco-paco segi empat tertata rapi seperti langit-langit di Taluk (Pesisir Selatan) dipasang serasi dengan tabia, dan kedua polos yang seperti di kelambu tempat/ ranjang tidur penganten tempo doeloe. Tirai itu menyimbolkan supremasi dan spirit adat. Dipajang di langit-langit rumah penutup loteng dan juga disebut M. Thaib (1935) pada langik-langik kelambu rumah. Pajangan dekoratifnya serasi dengan tabia (tabir) menutup dinding. Ada juga tirai dipajang pada eksterior di labuah gadang pada gapura (gaba-gaba pintu masuk) juga ada tirai bentuk mengambil motiv alam nabati rabuang (bambu muda) yakni bapucuak rabuang (berpusuk rabung). Bahkan juga ada tirai dipajang pada makam inyiak, syeikh-syeikh atau ulama tareqat dahulu dan biasa dominar warna kuning atau putih. Warna yang dipakai tiga warna utama bersumber spirit masyarakat adat Minangkabau yakni: kuning, merah dan hitam.

              Fenomena sekarang sudah didominasi warna warni amat semarak tetapi secara luas tetap berakar pada alam Melayu, di antaranya warna merah-merah, hijau-hijau muda, pink, kuning-kuning dsb. Secara kategoris warna dan motivnya sudah berubah jauh dari tirai warisan tempo doeloe. Disebut-sebut masyarakat adat sekarang di Minangkabau, modern.


            Saat ini belum ada peraturan ninik mamak yang melegalkan kecenderungan tirai dan tabir dekorasi rumah dalam upacara adat yang dipakai sekarang. Artinya belum ada keputusan tegas hanya baru dengan sikap membiarkan dan membolehkan. Sikap itu seperti mendominasi tingkat keterpakaian norma adat dalam petitihnya: nan babunyi badanga/ nan barupo baliek/ nan baraso bamakan. Artinya sikap ninik mamak itu sudah merupakan aturan abstrak, manampung setiap kesukaan orang banyak. Hal itu tentu saja memperbolehkan memakai atribut adapt yang tidak bertentangan dengan adat nan diadatkan (aturan yang disusun nenek moyang seperti yang diwariskan Dt Perpatih nan Sabatang atau Dt. Katumanggungan), atau mengutip Idrus (1978) tidak bertentangan dengan ajaran yang menjiwai adat (budi luhur/ akhlak mulia).

B. Fungsi Tirai dan Perspektif Seni Islam

           Ada beberapa fungsi yang dibawa oleh Tirai sebagai atribut upacara adat, antara lain Tirai  mengapresiasi seni sebagai salah satu sistim budaya, dilihat dari tidak hanya dari materi dengan simbol-simbol yang menaruh kekayaan nilai dan nafas Islam tetapi juga dilihat dari fungsi dan manfaatnya. Arahnya adalah produk budaya sistim nilai seni itu yuzakkihim (bersih dari hal yang tidak senonoh, isyarat QS 62:2), setidaknya seperti yang disebut Muhammad Quthub (1973) sebelumnya, menaruh tiga nilai yakni: (1) mau’izhah (advis/ pengajaran yang indah), (2) hikmah (wisdom) dan (3) irsyadah (guidance/ memberi arah lurus ke jalan yang benar). Islam memberikan arah pada seni bukan pada pemberian bentuk pola, tetapi pada nilai perinsip dasar dan pada fungsinya. Contoh konkrit fungsi seni pakai di samping seni disain seperti sabighat (baju besi) disebut QS 34:11 mengisyaratkan fungsi sebagai junnah (tameng) bagi Nabi Daud a.s. dalam peperangan. Juga jilbab disebut QS 33:59 diisyaratkan fungsi seni pakai dalam bentuk busana muslimah (pakaian wanita Islam) sebagai menutup aurat, menjaga aura perempuan Islam.
            Di dalam dua bentuk seni pakai tadi (sabighat dan jilbab) di dalamnya terkandung nilai pertahanan. Sabighat alat pertahanan dalam peperangan, jilbab alat pertahanan kehormatan perempuan dari prilaku tak senonoh lelaki murahan yang tergoda dengan provokasi kecantikan dan keelokan tubuh wanita dan mencegah prilaku pelecehan seksual/ pemerkosaan oleh/ dari lelaki selera rendahan itu. Demikian melihat tirai sebagai langit-langit dari perspektif seni Islam, dapat dipandang dari fungsinya dan muatan nilai yang ada di dalamnya. Di antaranya fungsi barang tak berguna menjadi berguna, fungsi simbol, fungsi penutup loteng pembatas intipan dari atas (loteng atau kelambu penganten pada rumah tradisional) dll. Fungsi benda tak berguna menjadi berguna. Dalam petitih adat, mengapresiasi barang tak berguna menjadi berguna: tak guno pananti guno (sekarang tak berguna, simpan dulu dan suatu saat nanti akan berguna). Menunggu peluang dan bentuk rekayasa budaya dalam bentuk sistim seni modern dan dibutuhkan masyarakat pemakainya. Dalam ajaran syara’ (Islam) banyak kalimat sumber Islam menyebut, “lakum fi l-ardhi jami’a/ semua yang ada ini di bumi adalah untuk manusia”. Tinggal lagi mencari konteks penggunaan dan daya guna dan manfaatnya sesuai kebutuhan. Dalam konteks tirai, barang yang semula tidak berguna itu adalah paco-paco (bekas guntingan kain yang terabaikan), direkayasa menjadi karya seni didisain/ dirangkai menjadi satu kesatuan bisa berfungsi tirai dan tabir. Mendayagunakan barang tidak berguna menjadi berguna sangat Islami dan memenuhi tuntutan syara’ mangato adat mamakai. Nilainya adalah pemanfaatan barang tidak berguna, di dalam Islam tidak membuat barang yang dianggap tidak berguna itu mubazir, yang mubazir itu ikhwan setan (saudaranya setan). Banyak sampah bisa sarang setan. Karenanya limbah baik diolah menjadi bermanfaat, betapa sangat Islami dan kaya nilai adat. Karena juga ada perinsip kebersihan lingkunang dari limbah. Al-nazhafatu min al-Iman/ bersih itu bagian dari iman. Fungsi simbol, paco-paco yang terbuang direkyasa didisaian segi empat dirangkai menjadi tabir dan tirai. Tirai dipajang dengan motiv paco-paco segi empat tertata rapi itu menyimbolkan misalnya kato nan-4 di Minang, fungsi urang nan-4 jinih dan urang jinih nan-4 di Minang. Nilainya amanat tata krama dan kearifan berbicara nada datar, mendaki, menurun dan melereng. Juga nilai kearifan fungsi penghulu, manti, malim (ulama) dan dubalang, serta kearifan iman, khatib, bilal dan qhadi di Minangkabau. Fungsi penutup loteng pada tirai atau kelambu, ada nilai rasa malu dan bermalu. Malu dalam perspektif orang Minang: suku tak dapek diasak/ malu tak dapek diagiahkan (suku tidak dapat dialih dan malu tidak dapat diberikan kepada orang lain). Pada malam maurak sanggua gadang pada pasca alek syara’ pernikahan di alek rang Taluak (Pesisir Selatan), tangah malam, ada anak gadis manganyia (memancing) di atas loteng. Tali kailnya kain panjang, memancing bujang. Bila seorang kepala bujang kena kail gadis di loteng, salah seorang penari kain langsung merenggut tali tirai dan putus (dibuat supaya mudah putus), tanda upacara selesai. Sekaligus bujang yang terpancing dan gadis yang memancing berlanjut kalau nasib baik berjodoh (YY, 2006). Jadi nilai penutup pada fungsi tirai dalam event ini berguna menutup mata mengintip dari atas yang sulit diketahui orang di bawah, menutup malu orang rumah secara luas. Sebenarnya nilai malu ini berakar dari kata syara’: alhaya’u min al-iman (bermalu itu bagian dari iman).

              Tirai disebut langit-langit bagian dari atribut adat dan tetap penting digunakan dalam upacara adat, baik dalam upacara aspek adat maupun dalam upacara aspek syara’ (Islam) di Minang. Bentuk dan colornya sudah terjadi perubahan luar biasa. Namun penggunaan tirai tetap merupakan bagian karya fann zukhrufiyah (seni dekoratif) menghiyasi tempat upacara adat, menambah kesemarakan dan kehangatan upacara adat itu dan indah. Karena faktor fungsi dan nilai adat di samping nilai keindahan (estetika/ jamal) maka dapat dipastikan dari perspektif fungsinya terutama ada nuansa ke-Islaman. Karena, keindahan dalam budaya Islam, bagian penting kehidupan umat Islam itu sendiri bahkan digunakan orang arif dalam Islam sebagai canel berhubungan dekat dengan Allah swt. Perubahan bentuk tirai termasuk tabia dan pakaian penganten, sudah saatnya ada kebijakan para pemuka adat dalam bentuk arah penggunaannya bentuk baru dan lama, agar debat kusir tentang fenomena baru itu tidak berlanjut. Artinya ditunggu masyarakat adat modernis keputusan para ninik mamak dalam mengadopsi perubahan dan inovasi.

            Dari kaitan upacara adat dan atribut dengan nilai-nilai Islam, maka dapat dipahami bahwa yang sebenarnya patut diperhatikan dalam pengkajian mengenai hubungan antara struktur sosial dengan agama dan upacara adalah dalam hal kaitannya dengan kenyataan-kenyataan sosial dan ekonomi yang ada dalam lingkungan hidup yang dihadapi oleh para pelakunya dalam masyarakat. Sehingga pertanyaan-pertanyaan yang berkenaan dengan relevansi dari sesuatu keyakinan keagamaan dan upacara yang dilihat sebagai struktur sosial ataupun sebagai corak hubungan yang terwujud antara struktur sosial dengan agama dan upacara, bukanlah harus dilihat dalam konteks struktur itu sendiri tetapi dalam suatu konteks yang lebih luas dan berlandaskan pada kehidupan yang nyata yang dihadapi oleh para pelaku yang bersangkutan. Karena, agama mempunyai berbagai fungsi penting yang terwujud dalam berbagai cara yang berbeda dalam kehidupan sosial manusia. Fungsi-fungsi tersebut antara lain adalah:

1.      Membentuk dan mendukung berlakunya nilai-nilai yang ada dan mendasar dari kebudayaan suatu masyarakat, yaitu etos dan pandangan hidup, yang antara lain terwujud dalam penekanannya pada bentuk-bentuk kelakuan yang wajar dan tepat menurut bidang atau arena sosial yang ada.

2.      Agama menyajikan berbagai penjelasan mengenai hakekat kehidupan manusia dan lingkungan serta ruang dan waktu yang dihadapi manusia dan yang dirinya sendiri adalah sebagian dari padanya; sehingga kedudukan dan peranannya menjadi jelas dan penerimaannya atas berbagai tahap dan keadaan kondisi kehidupan yang dihadapi dan dialaminya dapat diterima secara masuk akal baginya. Salah satu dari peranannya yang jelas terlihat adalah bahwa dalam keadaan kekacauan dan kesukaran, kebingungan dan jiwa tertekan, agama memainkan peranan yang besar bagi individu-individu yang bersangkutan karena agama menyajikan penjelasan dan bertindak sebagai kerangka sandaran bagi ketentraman dan penghiburan hati dalam keadaan kesukaran dan kekacauan yang dihadapi tersebut.

3.      Agama mempunyai peranan untuk menyatukan berbagai faktor dan bidang kehidupan ke dalam suatu pengorganisasian yang menyeluruh, yaitu dalam rangkuman struktur sosial, yang dimungkinkan oleh adanya peranan dari mitos dan upacara. Keduanya mempunyai peranan yang penting dalam mengko-ordinasi titik temu antara struktur sosial dengan agama dan antara agama dengan kehidupan yang nyata.

            Sebagai akhir kata, dapatlah dikatakan bahwa untuk dapat memperoleh pemahaman mengenai hakekat dan corak dari struktur sosial buday di Minangkabau, kita dapat mempelajari dan mengkaji agama, upacara, dan atribut yang digunakan sehingga dapat menemukan dan kemudian menentukan apa yang seharusnya diinternalisasikan dalam masyarakat di Minangkabau.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: