Budaya Pewarisan di Yogyakarta:Sebuah Kajian Semiotik de Saussure

BUDAYA PEWARISAN DI YOGYAKARTA:

Sebuah Analisis Semiotika

Oleh: Muhd.Al-Hafizh

 

            Banyak sekali hal-hal menarik di lingkungan kehidupan masyarakat Yogyakarta yang bisa dikaitkan dan di teliti dari segi semiotika nya. Dari hasil pengamatan dan bacaan saya tentang masyarakat Yogyakarta, akhirnya saya memilih untuk mengangkat sebuah topik tentang budaya pewarisan. Dalam tulisan ini saya akan menyajikan pokok-pokok gagasan saya dalam dua bagian; pertama melihat dari berbagai sumber yang ada bagaimana permasalahan pewarisan dalam masyarakat Yogyakarta, kedua, mencoba menganalisis fenomena-fenomena menarik dari masalah pewarisan tersebut dengan menggunakan teori semiotika.

 

A. Budaya Pewarisan di Yogyakarta.

Ketika saya mengamati kehidupan sosial masyarakat Yogyakarta, dan juga membaca sumber-sumber yang relevan tentang budaya pewarisan ini, saya menemukan informasi bahwa secara umum masyarakat Yogyakarta masih sangat kuat memegang tradisi pewarisan. Di sisi lain, ternyata pewarisan juga tidak jarang menimbulkan kasus-kasus keretakan sebuah keluarga. Sebuah pendapat yang ingin saya kutip berkenaan dengan kasus pewarisan ini adalah dari Suratno dan Astiyanto tahun 2004, serta hasil penelitian Munwaroh tahun 2002, dari tinjauan kemasyarakatan, mereka menemukan fakta bahwa masyarakat Yogyakarta dan Jawa pada umumnya sangat fanatik dengan tanah. Bagi mereka tanah adalah lambang kedaulatan. Ungkapan bahasa Jawa ”sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi pati”,  berarti jika menyangkut manusia dan tanah, setiap gangguan terhadap keduanya atau salah satunya harus dihadapi dan diatasi, sekalipun nyawa adalah taruhannya. Hubungannya dengan pewarisan adalah, mereka akan mengambil sikap tegas menyangkut pewarisan hak tanah.

Dalam keluarga Yogyakarta yang masih kuat menganut nilai-nilai budaya Jawa, membicarakan warisan, apalagi jika pewaris masih hidup, sering dianggap sebagai saru atau tidak pantas, bahkan tabu. Warisan selalu identik dengan kematian. Sementara kematian seseorang dalam tradisi Jawa akan diikuti dengan upacara selamatan 3, 7, 40, 100 hari, setahun, dua tahun, seribu hari dan seterusnya, yang berarti sepanjang masa itu keluarga dianggap masih berkabung. Pada masa sampai 100 hari, roh orang yang meninggal masih dianggap berada di sekitar kediamannya, sehingga membicarakan warisan dianggap sebagai hal yang memalukan.

            Pembicaraan mengenai warisan merupakan pembicaraan yang sensitif karena yang diperbincangkan tidak hanya masalah harta benda, tetapi bisa pula hutang piutang atau benda immaterial lainnya. Kompleksitas warisan tidak hanya menyangkut bentuk yang dipilih, harta yang akan dibagi, dan cara membagi, tetapi juga siapa saja dari ahli waris yang akan mendapat bagian. Masyarakat Yogyakarta percaya bahwa warisan berpotensi mengahncurkan hubungan kekerabatan, sehingga membicarakan warisan harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan konflik.

            Prinsip menjaga harmoni serta menjaga nilai kepantasan dan kepatutan benar-benar dijaga oleh masyarakat Yogyakarta, semboyan Jogja Berhati Nyaman betul-betul dicoba untuk mengejauwantahkannya oleh masyarakat yang kuat memegang tradisi. Keselarasan sebagai hal yang yang ingin diwujudkan oleh sebagian besar orang Jawa terlihat pada penghindaran untuk membicarakan hal-hal yang bersifat kebendaan atau uang. Kebersamaan, keutuhan keluarga, menjaga keakraban atau menghindari pertikaian yang diakibatkan oleh pembagian warisan umumnya masih dianut oleh sebagian besar masyarakat Yogyakarta. Bahkan prinsip hidup mangan ora mangan waton kumpul (biar tidak makan asal bersatu) masih ada yang memegang kuat. Dalam ungkapan tersebut terkandung ajaran budi pekerti ke arah persatuan. Dengan ungkapan itu diharapkan bahwa orang tetap menyatu, baik dalam keadaan suka maupun duka. Perwujudan uangkapan tersebut harus dijiwai rasa cinta, damai, sehingga kalau ada permasalahan yang mengarah pada pertikaian, dapat diselesaikan dengan arif (Endraswara, 2003 : 145).

            Prinsip keselarasan juga terlihat pada upaya ahli waris untuk tidak membagii harta waris secara tergesa-gesa, tetapi mengelolanya secara bersama-sama. Hasill pengelolaan harta tersebut kemudian dimanfaatkan secara bersama pula.

            Suatu berita menarik yang saya temukan dari tulisan Atik Triratnawati dalam buku esei-esei antroplogi tentang pewarisan di masyarakat Yogyakarta adalah sebagai berikut:

Ahli waris H, berumur 63 tahun, tinggal di Kauman, Pakualaman, Yogyakarta. Ia memiliki 9 orang saudara. Setelah ayahnya meninggal, warisan tidak segera dibagi, karena ibunya masih ada, serta untuk menjaga asas kepantasan. H belum memiliki rumah yang layak. Karena ayahnya dahulu adalah seorang abdi dalem kraton Pakualaman, maka Pakualam VIII memberikan hadiah sebidang tanah kepada keluarga tersebut. Ada seorang saksi yang diberi wasiat oleh pewaris bahwa tanah pemberian Paku Alam VIII tersebut tidak boleh dijual karena merupakan hadiah dari raja.

 

Alasan keluarga ini memilih hukum adat untuk pembagian harta warisan adalah keinginan mereka untuk tetap memegang teguh adat istiadat setempat, karena adat istiadat tersebut merupakan warisan nenek moyang yang perlu dilestarikan.

 

B. TINJAUAN SEMIOTIKA

            Dalam menganalisis budaya pewarisan di masyarakat Yogyakarta ini, saya merujuk teori semiotika dari De Saussure yang menjelaskan bahwa bahasa bukanlah satu-satunya sistem tanda yang dipakai dalam masyarakat, tetapi ada berbagai tanda lain. Makna suatu tanda mungkin berbeda menurut kebudayaan, misalnya gerak-gerik; menganggugukan kepala, mnggeleng kepala dan sebagainya. (A. Teeuw 1984 : 46)  Seringkali ada sistem tanda kehormatan, misalnya dalam tradisi Jawa, sistem strata sosial, sistem tanda ritual, dan upacara tertentu. Dalam perkembangannya, ide Saussure ini juga memiliki relevansi dengan ilmu antropolgi dengan munculnya istilah cognitive atau symbolic anthropology, cabang antropologi yang khusus meneliti sistem tanda dalam masyarakat. Tanda yang diteliti bisa tampil dalam bentuk makanan, pakaian, permainan, bangunan, dan perilaku masyarakat pada suatu tempat. 

            Dari realitas pelaksanaan pewarisan dalam tradisi masyarakat Yogyakarta sebagaimana diuraikan diatas, saya melihat ada tiga hal penting yang bisa dianalisis dengan kajian semiotika; makna warisan itu sendiri, tanah, dan hadiah dari raja.

 

1. Makna ”Warisan” sebagai cultural index.

            Apabila kita mendengar kata warisan, maka yang terbayang di kepala kita adalah harta yang banyak atau materi yang bisa kita dapatkan dengan cara yang sangat mudah disebabkan meninggalnya seseorang, karena dalam perspektif masyarakat umum, kita sering menemui kenyataan seperti itu. Banyak hal faktual maupun fiksional yang menggambarkan seseorang hidup mewah dan kaya raya karena keberkahan mendapatkan warisan. Bahkan ada pula program entertainment dan quiz di TV yang meminjam istilah warisan sebagai provokasi untuk pemirsa agar mau ikut dalam program tersebut, dengan iming-iming akan dapat imbalan yang lumayan besar (dibaca warisan). Singkatnya boleh dikatakan bahwa warisan selalu identik dengan harta.

            Berbeda halnya dengan masyarakat Yogyakarta yang kental dengan tradisi hukum adatnya, warisan memiliki makna yang lain. Diantaranya adalah; bagi masyarakat Yogyakarta, warisan bukan hanya bermakna harta benda, tetapi juga unsur immaterial lainnya, seperti hutang piutang dan sebagainya. Menurut Soepomo 1991 : 6, proses pewarisan sering diartikan sebagai proses pemindahan hak dan kewajiban dari satu orang kepada orang lain dalam ruang lingkup keluarga. Jadi, warisan bukan hanya bermakna mendapatkan hak, tetapi sekaligus didalamnya ada kewajiban yang berat.

            Perbedaan pemaknaan warisan ini di tradisi masyarakat Yogyakarta berimplikasi pada cara pandang dan penyikapan mereka terhadap warisan itu sendiri. Sebagaimana diuraikan diatas, masyarakat Yogyakarta menganggap membicarakan warisan adalah suatu hal yang saru, atau tidak pantas, bahkan dianggap tabu. Dalam hal pembagian warisan didasarkan pada kemufakatan keluarga, tidak mesti anak laki-laki atau perempuan mendapat bagian yang lebih besar, bahkan bisa jadi ada yang tidak mendapatkan warisan, berdasarkan tingkat kebutuhan. Hal ini berbeda dengan tradisi Islam misalnya. Dalam hukum Islam difahami bahwa prosesi pewarisan harus diselesaikan secepat mungkin ketika seseorang meninggal dunia. Alasannya adalah, dengan segera diselesaikannya pewarisan ini, akan meringankan beban arwah orang yang sudah meninggal di alam akhirat. Dalam hukum Islam, anak laki-laki mendapat bagian dua kali lebih besar dari anak perempuan, karena anak laki-laki memiliki tanggung jawab yang lebih besar dari anak perempuan. Beda lagi dengan sebahagian masyarakat Sumatera Barat yang malah mulai membicarakan tentang kejelasan pewarisan ketika seseorang belum meninggal dunia. Hal ini bagi mereka dianggap perlu, karena dengan kejelasan pewarisan tersebut, disamping secara aspek religi dianggap meringankan beban seseorang yang meninggal, kejelasan pewarisan ini juga untuk menghindari terjadinya konflik di belakang hari antara ahli waris, setelah pewaris meninggal dunia. Beberapa kasus terjadi, orang yang paling dekat dan ”pandai” mendekatkan diri dengan pewaris bisa mendapatkan warisan yang lebih besar dari anggota keluarga lain yang lebih pantas.

Jelaslah disini bahwa dalam masyarakat Yogyakarta, warisan menjadi sebuah cultural index, dalam makna yang berbeda dengan masyarakat di tempat lain.

 

2. Tanah sebagai lambang kedaulatan.

            Masyarakat  asli Yogyakarta sangat fanatik dengan tanah,karena tanah adalah lambang kedaulatan. Ungkapan sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi pati merupakan ekspresi kekuatan paradigma masyarakat Yogyakarta dalam menyelami makna tanah. Apabila ada ganggugan terhadap manusia dan tanah, maka mereka tidak segan-segan berkorban untuk membelanya, walaupun nyawa taruhannya. Masyarakat modern biasanya lebih pragmatis dan bahkan cendrung materialistis. Bagi mereka tanah adalah sekedar properti yang bisa dinvestasikan, dikomersilkan dan sebagainya. Bahkan dalam skala kehidupan yang lebih luas, dalam berbangsa dan bernegara, ada pula negara yang rela melepaskan sebagian dari tanah kepulauannya untuk dibeli oleh negara asing dengan dalih hanya kelemahan diplomas,i atau bahkan alasan kalah bargaining pada forum tingkat internasional. Hal ini sangat kontras dengan masyarakat Yogyakarta yang sangat fanatik dan mau berkorban nyawa untuk sebidang tanah. Hal ini terjadi sebagai wujud pemaknaan tanah sebagai kedaulatan, bukan sebatas harta benda atau kekayaan properti yang bisa diperjual belikan layaknya gelang, cincin, HP, mobil dan sebagainya.

            Saya melihat ada beberapa lapis makna tetang tanah dari perspektif masyarakat Yogyakarta; lapis pertama yag dapat lansung dilihat adalah tanah sebagai wilayah geografis dimana seseorang bisa berdomisili. Lapis kedua, tanah memilki makna tingkat status sosial seseorang. Sedangkan lapis ketiga yang lebih spesifik adalah, tanah sebagai lambang kedaulatan.

 

                  Tanah

Makna lapis pertama: wilayah geografis

Makna lapis kedua : Kekayaan properti

Makna lapis ketiga : Kedaulatan

Makna tanah pada lapis pertama dan kedua banyak ditemukan di bebagai tempat di daerah lain dan relatif berubah. Sebagai contoh, untuk masyarakat tradisional di Sumatera Barat ada anggapan bahwa seseorang bisa dikatakan kaya ketika ia memilki tanah sawah dan ladang yang luas. Sangat berbeda dengan masyarakat di sana di era modern, mereka yang tergolong kaya adalah masyarakat yang tidak memilki sawah dan ladang atau tanah yang luas. Mereka lebih memilih berbisnis dagang dan wiraswasta lainnya. Kehidupan bertani hanya digeluti oleh masyarakat golongan ekonomi menengah ke bawah. Bahkan ada kecendrungan akhir-akhir ini keengganan untuk memilki tanah yang luas, karena dikhawatirkan tidak produktif, sedangkan pajak (PBB) nya mahal.

Jelaslah bahwa masyarakat Yogyakarta memilki sistem pemaknaan tersendiri tentang tanah sebagai kedaulatan.

 

 

 

3. Hadiah dari raja sebagai simbol identitas.

            Dalam informasi tentang pewarisan terdahulu saya sudah menyampaikan bagaimana sikap keluarga H sebagai ahli waris tidak mau memanfaatkan/menjual tanah yang dihadiahkan oleh raja Paku Alam VIII untuk dijadikan tempat domisili. Walaupun pada faktanya salah satu ahli waris keluarga H belum memiki rumah yang layak, akan tetapi mereka tetap komit untuk tidak mewariskan tanah yang dihadiahkan raja Paku Alam.

            Dalam hal ini saya melihat, bahwa hadiah dari raja memilki arti yang spesifik atau menjadi sebuah simbol bagi keluarga ini. Simbol yang dimaksud barangkali menunjukan fakta historis bahwa salah seorang leluhur mereka adalah seorang abdi dalem, pekerja atau pegawai kepatihan. Lebih jauh, juga tersirat makna bahwa orang tua mereka adalah seorang adi dalem yang loyal, berprestasi dan disayangi oleh raja. Hal ini terbukti dari hadiah yang diterimanya. Dalam tradisi kraton dan kepatihan Yogyakarta, tinggi rendahnya kedudukan seorang abdi dalem didasarkan pada kepangkatan, kemampuan dan pengadiannya pada pekerjaan yang diembannya. Berdasarkan kepangkatannya dibedakan menjadi abdi dalem yang berpangkat luhur atau tinggi dan abdi dalem yang berpangkat rendah.  Untuk menjaga eksistensi status sosial dan prestise keluarga mereka sebagai keluarga abdi dalem yang berpagkat luhur, maka keluarga ini terus menjaga tanah yang pernah diahadiahkan Paku Alam kepada mereka dengan cara tidak mewariskan / menjualnya. Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa hadiah tanah dari sang raja memilki makna yang lain atau menjadi simbol bagi mereka. Pelapisan makna untuk simbol ini adalah:

 

                  Hadiah tanah

                  dari Paku Alam VIII

Makna lapis pertama: orang tua mereka abdi dalem

Makna lapis kedua : Apresiasi dari raja

Makna lapis ketiga : Mejaga eksisstensi status

Sekedar perbandingan untuk kasus ini, saya ingin membuat sebuah analogi, bahwa suatu ketika adik saya pernah mendapatkan seperangkat alat tulis sebagai hadiah juara kelas. Sampai beberapa lama waktunya adik saya tersebut tetap meletakan seperangkat alat tulis yang dibungkus rapi, lengkap dengan tulisan ”Juara I” pada sampul hadiah tersebut di ruang tamu. Ia belum mau memakai alat tulis tersebut, walaupun sebenarnya ia membutuhkannya. Tapi ia lebih memilih menggunakan buku dan alat tulis yang lain atau meminta saya membelikan buku dan pena yang baru. Kesimpulan saya adalah, ada suatu makna yang lain dari hadiah tersebut yang ingin selalu dilanggengkan adik saya. Hadiah tersebut merupakan simbol baginya yang membawa lapis makna  bahwa ia adalah seorang siswa yang rajin dan pandai, atas kepintaran dan kerajinannya tersebut ia mendapat posisi rangking I di kelas, dan diberi hadiah oleh gurunya.

Demikianlah tiga hal yang bisa saya telaah dari kebudayaan waris di Yogyakarta dengan menggunakan kajian semiotika.

 

Referensi:

 

Ahimsa-Putra. 1985. Etnosains dan Etnometodologi : Sebuah Perbandingan. Publikasi Ilmiah Masyarakat Indonesia.

 

A.Sebeok Thomas. 1978. Studies in Semiotics, vol 22. USA : Indiana University Press.

 

Eco, Umberto.   1976. A Theory of Semiotics. USA : Indiana University Press.

 

Hawkes, Terence. 1977. Structuralism and Semiotics. Britain : Methuen & Co LTD

 

Noth, Winfried. 1990. Handbook of Semiotics. USA : Indiana University Press.

 

Rifaterre, Michael. 1978. Semiotics of Poetry. USA : Indiana University Press

 

Sudjiman, Panuti dan aart van Zoest. 1996. Serba-serbi Semiotika. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

 

Sunardi, ST. 2002. Semiotika Negativa. Jakarta : Kanal

 

Subagijo, Wisnu. 1995. Pola Interaksi Masyarakat di Kalangan Mandala Wisata Daerah Istimewa Yogyakarta. Jakarta : Departemen Pendidiakn dan Kebudayaan.

Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra; Pengantar Teori Sastra. Jakarta : PT. Pusataka Jaya

 

 

 

 

 

Responses

  1. subuah tulisan yang perlu dikembangkan… mengingat filosofi, teori tentang harta /properti di Indonesia hampir2 ga ada… bahkan dikaitkan dengan hak-hak yang telah nyata di atur di UUPA saja kadang susah dirunut dasar pemikirannya….apakah sosialis, liberalis, pancasilais…. bisa jadi mas nemu teori harta ini secara jogjais, javanis, sumatranis….. semoga


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: