Perempuan dalam Agama:Konsep Feminisme

REPRESENTASI PEREMPUAN DALAM AGAMA

By:Muhd.Al-Hafizh,SS

 

 

            Setiap posisi sosial memiliki perspektif dan kepentingan sendiri-sendiri. Pemahaman orang mengenai apa yang benar dan pantas dan mengenai apa yang baik bagi mereka dan dunia secara keseluruhan, berbeda satu sama lain. Dalam hal ini, agama dan ideologi menjadi sebuah sistem kepercayaan dan memegang fungsi signifikan di masyarakat, dalam menjelaskan, menafsirkan dan memberikan penilaian terhadap suatu hal baik atau tidak baik bagi mereka (Sugihastuti; 62)

            Berkaitan dengan fungsi agama seperti yang disampaikan Sugihastuti diatas, saya akan mengupas tentang  kesalahan penafsiran nilai pewarisan dalam agama Islam. Karena menurut hemat saya, dalam hal ini yang salah bukanlah agama Islam sebagai patokan hidup, akan tetapi masyarakat yang memaknainya lah yang terkadang mengalami defiasi pemknaan nilai-nilai agama itu. Diantara banyak ayat dalam Al Quran yang berbicara tentang wanita dan kedudukannya, saya mengambil surat An Nisa ayat 127 sebagai titik tolak pembahasan ini.

Berikut adalah terjemahan surat An Nisa ayat 127;

Allah mensyari’atkan bagimu tentang pembagian warisan untuk anak-anakmu, yaitu; bagian seorang anak laki-laki sama dengan dua bagian anak perempuan, dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan, jika anak perempuan seorang saja, maka ia memperoleh separoh harta.

 

Dalam ayat diatas, seolah-olah terkesan ada ketidak adilan dalam pembagian harta warisan untuk anak laki-laki dan perempuan, dimana laki-laki mendapat bagian dua kali lipat bagian anak perempuan, padahal menurut logikanya anak laki-laki lebih kuat secara fisik untuk berusaha. Tanpa harta warisan pun seharusnya mereka bisa survive. Di sini lah letak defiasi makna yang menurut saya terjadi. Dimana kaum laki-laki melegitimasi pengebirian hak-hak waris perempuan dengan menggunakan dalil ini. Sehingga fakta yang terjadi di lapangan adalah, laki-laki menunjukan superioritas material atau kekerasan ekonomi mereka dengan medapatkan harta warisan yang lebih banyak dari perempuan. Lebih menyedihkan lagi ketika harta ini diperguakan bukan untuk kebutuhan keluarga batih mereka dimana warisan itu didapatkan, akan tetapi dimanfaatkan untuk kebutuhan yang bukan primer untuk keluarga si anak laki-laki atau sekedar untuk hedonisme.

            Sejauh yang saya fahami, sebenarnya dalam agama Islam, hikmah laki-laki mendapatkan warisan dua kali lipat anak perempuan adalah sebagai manifestasi sokongan untuk tanggung jawab laki-laki sebagai pengayom (qowwam) kaum perempuan. Jadi boleh dikatakan, secara implisit sebenarnya laki-laki semestinya menfungsikan haknya yang lebih mengarah kepada menjaga dan mengorganisir harta tersebut, bukan untuk konsumptif atau menghabiskannya . Dalam implementasinya, harta tersebut dapat digunakan oleh laki-laki untuk menguatkan sisi ekonomi keluarga, khususnya saudara perempuan, pasca kematian orang tua mereka.

Masalah pewarisan ini diterjemahkan secara berbeda oleh masyarakat Islam di tempat yang berbeda, misalnya saja bagaimana menyikapi hukum agama tentang warisan di Jogjakarta sangat berbeda dengan penafsiran warisan di Minagkabau. Ketika saya mengamati kehidupan sosial masyarakat Yogyakarta, dan juga membaca sumber-sumber yang relevan tentang budaya pewarisan ini, saya menemukan informasi bahwa secara umum masyarakat Yogyakarta masih sangat kuat memegang tradisi pewarisan. Di sisi lain, ternyata pewarisan juga tidak jarang menimbulkan kasus-kasus keretakan sebuah keluarga. Sebuah pendapat yang ingin saya kutip berkenaan dengan kasus pewarisan ini adalah dari Suratno dan Astiyanto tahun 2004, serta hasil penelitian Munwaroh tahun 2002, dari tinjauan kemasyarakatan, mereka menemukan fakta bahwa masyarakat Yogyakarta dan Jawa pada umumnya sangat fanatik dengan tanah. Bagi mereka tanah adalah lambang kedaulatan. Ungkapan bahasa Jawa ”sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi pati”,  berarti jika menyangkut manusia dan tanah, setiap gangguan terhadap keduanya atau salah satunya harus dihadapi dan diatasi, sekalipun nyawa adalah taruhannya. Dalam keluarga Yogyakarta yang masih kuat menganut nilai-nilai budaya Jawa, membicarakan warisan, apalagi jika pewaris masih hidup, sering dianggap sebagai saru atau tidak pantas, bahkan tabu. Warisan selalu identik dengan kematian. Sementara kematian seseorang dalam tradisi Jawa akan diikuti dengan upacara selamatan 3, 7, 40, 100 hari, setahun, dua tahun, seribu hari dan seterusnya, yang berarti sepanjang masa itu keluarga dianggap masih berkabung. Pada masa sampai 100 hari, roh orang yang meninggal masih dianggap berada di sekitar kediamannya, sehingga membicarakan warisan dianggap sebagai hal yang memalukan.

            Pembicaraan mengenai warisan merupakan pembicaraan yang sensitif karena yang diperbincangkan tidak hanya masalah harta benda, tetapi bisa pula hutang piutang atau benda immaterial lainnya. Kompleksitas warisan tidak hanya menyangkut bentuk yang dipilih, harta yang akan dibagi, dan cara membagi, tetapi juga siapa saja dari ahli waris yang akan mendapat bagian. Masyarakat Yogyakarta percaya bahwa warisan berpotensi mengahancurkan hubungan kekerabatan, sehingga membicarakan warisan harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan konflik.

            Prinsip menjaga harmoni serta menjaga nilai kepantasan dan kepatutan benar-benar dijaga oleh masyarakat Yogyakarta, semboyan Jogja Berhati Nyaman betul-betul dicoba untuk mengejauwantahkannya oleh masyarakat yang kuat memegang tradisi. Keselarasan sebagai hal yang yang ingin diwujudkan oleh sebagian besar orang Jawa terlihat pada penghindaran untuk membicarakan hal-hal yang bersifat kebendaan atau uang. Kebersamaan, keutuhan keluarga, menjaga keakraban atau menghindari pertikaian yang diakibatkan oleh pembagian warisan umumnya masih dianut oleh sebagian besar masyarakat Yogyakarta. Bahkan prinsip hidup mangan ora mangan waton kumpul (biar tidak makan asal bersatu) masih ada yang memegang kuat. Dalam ungkapan tersebut terkandung ajaran budi pekerti ke arah persatuan. Dengan ungkapan itu diharapkan bahwa orang tetap menyatu, baik dalam keadaan suka maupun duka. Perwujudan uangkapan tersebut harus dijiwai rasa cinta, damai, sehingga kalau ada permasalahan yang mengarah pada pertikaian, dapat diselesaikan dengan arif (Endraswara, 2003 : 145).

Dalam hukum Islam difahami bahwa prosesi pewarisan harus diselesaikan secepat mungkin ketika seseorang meninggal dunia. Alasannya adalah, dengan segera diselesaikannya pewarisan ini, akan meringankan beban arwah orang yang sudah meninggal di alam akhirat. Dalam hukum Islam, anak laki-laki mendapat bagian dua kali lebih besar dari anak perempuan, karena anak laki-laki memiliki tanggung jawab yang lebih besar dari anak perempuan. Beda lagi dengan sebahagian masyarakat Sumatera Barat yang malah mulai membicarakan tentang kejelasan pewarisan ketika seseorang belum meninggal dunia. Hal ini bagi mereka dianggap perlu, karena dengan kejelasan pewarisan tersebut, disamping secara aspek religi dianggap meringankan beban seseorang yang meninggal, kejelasan pewarisan ini juga untuk menghindari terjadinya konflik di belakang hari antara ahli waris, setelah pewaris meninggal dunia. Beberapa kasus terjadi, orang yang paling dekat dan ”pandai” mendekatkan diri dengan pewaris bisa mendapatkan warisan yang lebih besar dari anggota keluarga lain yang lebih pantas.

Dari beberapa analisis di atas, nampak jelas bahwa perbedaan pemahaman masyarakat tentang agama berimplikasi pada perbedaan cara pandang mereka dalam merepresentasikan perempuan dalam kehidupan di masyarakat.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: